Tomoe masuk ke dalam kamar Himura yang sedang duduk di sudut ruangan. Himura sedang melamun tetapi ia menyadari kehadiran Tomoe ketika masuk.
"Apa aku mengganggu?", tanya Tomoe.
"Ie."
Tomoe mengambil tempat yang tidak jauh dari pemuda itu, lalu duduk bersujud.
"Kamiya-san sangat peduli dengan dirimu di masa depan."
Himura memandangnya. "..."
"Melihat dirimu yang akan datang, aku seperti melihat dua orang yang berbeda. Saat ini kamu mempertahankan pandanganmu untuk membunuh demi masa depan yang kalian impikan. Sedangkan dia, ... tidak akan membunuh sekalipun itu adalah musuhnya. Seandainya saja kamu ...", perkataan Tomoe terhenti. "Apa yang membuatnya bersumpah untuk tidak membunuh lagi?"
"Ore wa Hitokiri, aku tidak bisa menjadi yang lain. Aku bukan milik jaman ini."
Hawa membunuh terasa dengan sangat jelas oleh Himura. Ia segera bergegas menitipkan Tomoe kepada Katsura. Sedangkan ia sendiri bersembunyi di balik bayangan malam itu, mengawasi hawa para pembunuh yang menyelinap masuk ke Aoiya.
Belum sempat para pembunuh kiriman Hoji bergerak melukai satu orang pun yang tinggal di sana, Himura sudah berhasil membunuh mereka, hanya tinggal satu penyelinap lagi yang berhasil masuk ke kamar Okina. Tetapi Okina berhasil menangkapnya sebelum Himura berhasil membunuhnya.
"Aoshi benar-benar sudah kehilangan arah.", kata Okina. "Aku akan mengirim pesan padanya."
"Himura, apa kamu yang membunuh orang-orang itu?", tanya seorang dari Oniwabanshu.
"Aku hanya menjalankan tugasku untuk melindungi Katsura-san."
Okina menghela napas. "Aku harap kamu tidak melakukannya lagi."
"Apa yang terjadi?", tanya Katsura yang baru tiba di kamar Okina.
"Orang-orangnya Shishio menyerang kita.", jawab Himura.
"Tidak. Ini bukan atas perintah Shishio. Aku yakin ini adalah perbuatan Aoshi. Dia sudah tidak pantas menjadi Okashira. Bersekutu dengan Shishio demi sebuah pertarungan dengan Himura. Aku benar-benar harus membunuhnya dengan tanganku sendiri.", kata Okina.
Keesokan paginya.
Begitu Misao mengetahui bahwa Okina pergi bertarung dengan Aoshi, ia langsung pergi ke tempat kejadian. Yang bisa ia lakukan hanyalah membawa orang tua yang dalam keadaan luka parah dan tidak sadarkan diri itu kembali ke Aoiya.
Gadis berumur 16 tahun itu mengangkat dirinya sebagai Okashira yang baru.
"Kamiya-san.", panggil Himura yang berdiri di depan kamar Kaoru dan Yahiko. "Apa aku bisa bicara denganmu sebentar?"
Yahiko menggeser shoji dan mengijinkan Himura masuk. Pemuda berambut merah itu terkejut melihat Tomoe yang ternyata berada di sana. Tomoe hendak berpamitan dengan mereka tetapi ditahan oleh Kaoru. Battousai mengambil tempat di hadapan Kaoru dan Yahiko.
"Ada perlu apa, ... Kenshin?", tanya Kaoru yang ragu menyebut nama sang Hitokiri. "Apakah boleh aku memanggilmu Kenshin?"
"Kalian memang orang yang sama, tapi tetap terasa aneh memanggilmu Kenshin. Walaupun orang yang sama tapi kalian memiliki keseharian yang sangat berbeda.", celetuk Yahiko sambil mengorek teliga dengan jari kelingkingnya.
"Aku tidak keberatan.", jawab Himura.
"Jadi apa yang ingin kamu ketahui?", tanya Kaoru.
"Ore no shisshou. Aitsu wa genki ka?", tanyanya.
"Hai. Hiko-san terlihat sangat sehat."
"Dia kembali kepada shisshou untuk mempelajari jurus itu, apa shisshou bersedia mengajarinya?"
"Untung kami ke sana. Kenshin dimarahi habis-habisan oleh lelaki sombong itu, dia bahkan diusir.", kata Yahiko. "Awalnya dia tidak mau menurunkan ogi kepada Kenshin. Tapi setelah kami menceritakan apa saja yang Kenshin lakukan sejak bakumatsu berakhir, dia baru bersedia mengajarinya.", lanjutnya. "Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian? Omae no shisshou benar-benar marah sekali padamu!"
Himura menunduk. "Kami bertengkar. Lalu aku meninggalkannya."
"Bertengkar?"
"Kalian berdua benar-benar tidak mirip.", kata Yahiko.
"Aku tidak pernah menyangka Kenshin bisa juga bertengkar.", Kaoru tertawa kecil. "Aku juga baru sadar kalau Kenshin juga pernah melewati masa remaja yang penuh emosi."
Tomoe melihat Kaoru dengan rasa ingin tahu. "Memangnya apa yang kalian ketahui mengenai dia yang sekarang?"
"Tomoe-san, kamu tidak akan pernah menyangka.", jawab Kaoru.
"Kesehariannya ya mencuci baju, bersih-bersih rumah, ke pasar, menyiapkan makan pagi siang dan malam, juga babysitting dan menyiapkan air panas untuk si Busu mandi.", jelas Yahiko.
Mata Tomoe terbelalak terkejut.
Kaoru meninju Yahiko.
"Uso.", kata Himura yang tidak mempercayainya.
"Uso ja nai yo.", kata Kaoru. "Kenshin bilang dia sangat menyukai melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Tapi aku kesal juga, dia selalu mengerjakannya dengan sangat sempurna daripada aku."
"Justru karena kamu tidak bisa mengerjakannya dengan benar jadinya Kenshin yang turun tangan.", kata Yahiko.
Kaoru meninjunya lagi. "Dasar tidak sopan!"
"Ugh! Itu kan kenyataannya! Masakan Kenshin jauh lebih baik dan aman daripada masakanmu!"
Keduanya bertengkar dan saling mencubit pipi lawannya.
"Walaupun itu kenyataannya kamu tidak perlu mengatakannya di depan mereka berdua!"
Tomoe melihat Himura. Wanita lembut itu masih sulit mempercayai semua yang dikatakan kedua orang dari Tokyo itu.
Kemudian Katsura juga ikut bergabung dengan mereka. Katsura adalah yang paling penasaran dengan kehidupan Hitokirinya di masa yang akan datang.
"Apa aku melewatkan sesuatu?", tanya Katsura dengan senyum khas nya.
"Ie.", jawab Himura.
"Himura sudah lama tinggal bersama kalian di Tokyo?"
"Sebenarnya belum satu tahun Kenshin tinggal di dojo.", jawab Kaoru. "Tapi bagi kami Kenshin sudah seperti keluarga. Teman-teman menunggunya kembali."
"Semua ini gara-gara Si tua Okubo! Kalau dia tidak datang mencari Kenshin, maka kami masih akan baik-baik saja di Tokyo.", kata Yahiko.
"Okubo-san?", sebut Katsura.
"Ie, Yahiko.", kata Kaoru. "Sebelum itu Kenshin juga sudah sering terlihat murung dan melamun terus."
"Kamiya-san, tolong ceritakan.", kata Hiimura.
Kaoru menunduk. "Kira-kira satu minggu sebelum kedatangan Okubo ke dojo. Kenshin sudah sering terlihat melamun. Kenshin tetap melakukan rutinitasnya sehari-hari. Tapi dia sering melamun, dipanggil pun tidak tahu, dan bahkan saat sedang menemani Ayame-chan to Suzume-chan bermain, dia pun melamun.", kata Kaoru. "Sampai saat Genzai-sensei mengundang kami makan di Akabeko, di perjalanan Kenshin baru menceritakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia bilang akhir-akhir ini dia sering mimpi buruk, mimpi tentang masa lalu saat masih menjadi Hitokiri. Kenshin menceritakan pertarungannya dengan para ketua regu Shinsengumi. Yang membuatku merasa aneh adalah Kenshin menceritakan tentang masa lalunya yang selama ini tidak pernah dia bicarakan. Makannya juga tidak banyak."
"Terlebih lagi setelah pulang dari Akabeko dan menemukan Sanosuke pingsan dan terluka parah.", sambung Yahiko.
Kaoru mengangguk. "Kenshin menyendiri terus di dojo. Tatapannya sangat mengerikan. Tidak ada yang berani mendekatinya. Aku yakin dia mulai mencurigai seseorang yang mampu melukai Sanosuke separah itu."
"Keesokan sorenya aku melihat Kenshin pergi setelah membaca sebuah surat. Aku tidak tahu surat apa itu, tapi yang pasti dia kelihatan sangat serius."
"Sementara Kenshin pergi, kami kedatangan seorang polisi yang bernama Fujita Goro."
"Fujita Goro!!??", sebut Himura terkejut. "Kemarin aku mendengarnya menyebut nama itu."
Kaoru mengangguk. "Kami tidak tahu kalau Fujita Goro adalah mantan ketua regu tiga Shinsengumi, Saito Hajime. Kami baru tahu setelah Kenshin kembali dan menemuinya. Ternyata Saito lah yang melukai Sanosuke. Lalu ..."
"Lalu apa yang terjadi Kamiya-san?"
"Keduanya bertarung. Kenshin terluka. Namun perlahan tapi pasti gerakan Kenshin semakin cepat, hingga ..."
"Kenshin kehilangan kendali atas dirinya dan kembali menjadi Hitokiri Battousai.", sambung Yahiko. "Kami belum pernah melihatnya bertarung dengan begitu mengerikan. Setiap serangannya sangat mematikan. Kalau itu bukan sakabattou, Leher Saito pasti sudah putus waktu itu."
Katsura memandang Kaoru. "Bagaimana kalian bisa membedakan Himura yang Rurouni dan Himura yang Hitokiri?"
"Pandangannya.", jawab Kaoru. "Juga ucapannya. Kenshin selalu menyebut dirinya dengan sessha, sedangkan Hitokiri Battousai mengatakan ore. Selain itu, saat itu dia mengatakan 'akulah yang akan membunuhmu'."
"Tapi aku benar-benar terkejut melihat pertarungan mereka. Sugoi na.", kata Yahiko.
"Berkali-kali aku memanggilnya, tapi Kenshin sepertinya tidak bisa mendengarku."
"Dan akhirnya pertarungan mereka harus dihentikan tanpa diketahui siapa pemenangnya dengan kedatangan Si tua Okubo. Dan ternyata Saito sengaja diutus untuk bertarung dengan Kenshin. Mereka ingin mengetahui kekuatan Kenshin."
"Aku jadi lega setelah Kenshin kembali menjadi dirinya."
"Mereka menceritakan tentang Shishio dan meminta Kenshin untuk membunuhnya. Si pendek Kawaji itu mengancam Kenshin kalau dia tidak bersedia menerima tugas itu, maka kami teman-temannya akan ditangkap karena masa lalu kami yang juga kelam sebelum bertemu Kenshin.
"Tapi Kenshin memutuskan untuk datang ke Kyoto bukan karena ancaman itu, Yahiko."
"Aaa...wakatta yo, Busu. Karena Si tua Okubo dibunuh oleh orangnya Shishio kan."
Kaoru meninjunya. "Jaga bicaramu!"
"Okubo-san dibunuh?", Katsura dan Himura terkejut.
Kaoru mengangguk. "Selain itu, ada alasan lain juga, Katsura-san. Walaupun Kenshin tidak pernah mengatakannya, aku tahu Kenshin menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang dilakukan Shishio saat ini, juga dia pergi karena tidak ingin kami terlibat."
"Setelah tahu begitu, anda masih saja datang ke Kyoto, Kamiya-san?", tanya Katsura.
"Aku ingin Kenshin tahu, kami menunggunya kembali, dan juga akan selalu membantunya apapun yang terjadi. Aku ingin dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Bersama-sama menghadapi Shishio akan lebih baik daripada sendirian. Kami tidak ingin menjadi bebannya."
Katsura melihat Himura. "Kamu sangat beruntung akan memiliki teman-teman yang begitu menyayangimu, Himura."
"Ngomong-ngomong, Sanosuke sudah sampai belum sih di Kyoto? Jangan-jangan si bodoh itu tersesat.", kata Yahiko.
"Iya, ya.", tanggap Kaoru.
"Kaoru-san!", panggil Misao yang sedang berlari ke kamarnya. "Kaoru-san! Ada surat dari Himura!"
Kaoru terlihat senang dan menerima surat itu dari Misao lalu membacanya. Mata gadis berambut kucir kuda tersebut terbelalak.
"Doushimashita?", tanya Himura.
"Kenshin bilang Shishio akan membakar Kyoto tengah malam ini."
"NANIIIII??!!!", seru Misao.
"Jaa Kenshin wa?", tanya Yahiko.
"Kenshin beserta Saito dan Sanosuke sedang menuju ke pelabuhan di Osaka untuk menghentikan Shishio yang akan bergerak menuju Tokyo. Sasaran mereka yang sebenarnya adalah Tokyo."
"Tokyo?"
"Mereka bermaksud mengalihkan perhatian pemerintah dengan membakar Kyoto. Padahal sebenarnya mereka mengincar Tokyo. Pusat pemerintahan Jepang.", kata Katsura.
"Aku Oniwabanshu no Okashira harus melindungi Kyoto. Aku akan memberitahu semua penduduk Kyoto untuk bersama-sama mencegah pembakaran ini!"
Kaoru dan Yahiko mengangguk.
Merpati pos pun dilepas untuk memberitahukan pada seluruh penduduk Kyoto. Malam yang mencekam pun dimulai.
Fanfics
Rabu, 06 Mei 2015
02 Himura Battousai Meet Himura Kenshin Gumi
Mereka pun kembali ke Aoiya.
"Aku benar-benar tidak menyangka pedang terakhir buatan ayahku adalah sebilah sakabattou.", kata Seiku. "Himura-san, kumohon terimalah pedang ini."
"... Ketika Shakku-dono mendengar sessha mengatakan bahwa sessha tidak akan pernah membunuh lagi, beliau memberikan sessha sebilah sakabattou. Shakku-dono berkata, bila suatu saat nanti sakabattoumu patah dan kamu masih terbuai dengan mimpi mu melindungi orang tanpa membunuh maka datanglah dan cari aku.", cerita Kenshin. "Sessha tidak menyangka itu adalah pertemuan terakhir dengan Shakku-dono." Lalu ia membisu sejenak lalu kembali berkata, "Sessha masih terbuai dengan mimpi ini, ... Maka sessha akan menerima sakabattou shinuchi ini dengan senang hati."
Setelah Seiku dan istrinya berpamitan, suasana kembali menghening.
"Gomen nasai.", sebuah suara lembut terdengar dari balik shoji. "Apakah saya mengganggu?"
Kenshin terkejut dan melihat ke arah pintu. "Ano koe ..."
"Sama sekali tidak. Masuklah.", jawab Okina.
Shoji digeser dan tampaklah seorang wanita berkimono putih dengan harum wewangian plum putih.
Kenshin berdiri dari tempat duduknya dengan mata yang lebih terbelalak lagi. "To ...mo ... e.", sebutnya.
Yukishiro Tomoe juga terkejut, tetapi tidak sekejut Kenshin.
"Oi, Himura. Kamu ini seperti melihat hantu saja.", kata Misao yang kemudian mendekati Tomoe dan mengajaknya duduk bersama.
Pandangan Kenshin tidak pernah lepas dari perempuan lembut itu, kemudian ia duduk dan menunduk.
"Bagaimana kalian bisa sampai di jaman ini, Katsura-san?", tanya Okina yang memulai pembicaraan.
Katsura tersenyum. "Kami juga tidak tahu, Okina-san. Pada awalnya kami memang ingin mencicipi makanan di Aoiya, tiba-tiba dalam perjalanan kami diselimuti kabut tebal, dan setelah itu kami berada di jaman ini.", jawabnya. "Kalau tidak salah, tadi anda menyebut jaman Meiji?"
"Sekarang ini adalah tahun kesebelas Meiji setelah jaman Bakumatsu. Saat ini katana dilarang dibawa di tempat umum. Hanya polisi yang boleh menggunakan katana. Aku yakin ada kalanya Himura-kun mengalami kesulitan dengan membawa katana di pinggangnya."
"Itu artinya kami berhasil menggulingkan Tokugawa.", kata Katsura.
Tomoe memperhatikan Kenshin yang sedaritadi menunduk. "Lalu ... di jaman yang damai ini, kamu masih belum bisa meletakkan katana."
Kenshin menegakkan kepalanya melihat Tomoe. "Kore wa sakabattou de gozaru yo."
Tomoe terkejut mendengar intonasi sang Rurouni.
"Kono katana wa tidak bisa digunakan untuk membunuh. Sessha sudah berjanji akan berhenti membunuh ketika jaman baru dimulai."
"Berjanji kepada siapa?", tanya Himura yang sedaritadi hanya duduk diam sambil memeluk pedangnya di sudut ruangan.
Kenshin tersenyum tipis dan menunduk mengenang. "Kepada seseorang yang telah menyadarkan sessha dari kesalahan yang terlanjur sessha lakukan.", jawabnya. "Sessha harus menebus dosa-dosa dari semua kehidupan yang telah sessha rampas." Kemudian ia menegakkan kepalanya lagi dan melihat Himura. "Ini bukanlah jaman Bakumatsu lagi, jangan membunuh siapapun dengan katanamu. Dan juga ... Sessha sedang diincar, sebaiknya kalian jangan terlihat di luar. Orang-orangnya Shishio ada dimana-mana."
"Shishio?", sebut Katsura dan Himura.
"Tenang saja. Kalian akan aman di sini. Bagaimanapun juga kami adalah Oniwabanshu, penjaga kota Kyoto yang indah ini.", kata Misao dengan penuh semangat.
"Oniwabanshu?!" Himura segera memegang pedangnya dan bergerak melindungi komandannya. "Tomoe! Kemari!"
Misao menghela napas. "Neee, Himura. Kamu jelaskan pada mereka. Aku akan turun dan menyiapkan makan siang untuk kita.", katanya yang lalu meninggalkan ruangan.
"Katsura-san, jaman sudah berubah. Sekarang adalah saatnya semuanya bersatu membangun Meiji. Baik itu orang-orang yang dulunya berpihak kepada Bakufu maupun Isshinshishi, semuanya di jaman ini bersama-sama mempunyai tujuan yang sama.", jelas Kenshin.
"Himura, kamu sudah banyak berubah.", kata Katsura yang kemudian melihat pengawalnya. "Aku tidak menyangka kelak kamu akan berubah menjadi seperti itu."
"Katsura-san!", Himura menjadi salah tingkah.
Kenshin menyelipkan sakabattou di pinggangnya.
"Kamu mau kemana, Himura-kun?", tanya Okina.
"Sessha harus pergi dari sini. Bila Shishio mengetahui keberadaan sessha di Aoiya ini, dia pasti tidak akan tinggal diam. Kalian bisa berada dalam bahaya."
"Tapi ..."
"Okina-san, kami sudah menemukan orang yang anda cari.", kata seorang lelaki bertubuh besar sambil menyerahkan secarik kertas dan kemudian meninggalkan ruangan.
Okina membuka kertas tersebut. "Orang terakhir yang kamu cari sudah ditemukan, Himura-kun.", katanya. "Hiko Seijuro. Sedikit sulit untuk menemukannya karena dia menggunakan nama samaran."
"Shisshou?", sebut Himura.
"Anata no shisshou?", tanya Katsura.
Himura mengangguk.
"Arrigatou, Okina-dono. Jaa, ittekimassu.", pamit Kenshin.
"Himura-kun, ingatlah. Apapun yang terjadi, kami Oniwabanshu selalu berpihak padamu. Bersama-sama melindungi Jepang dari niat iblis Shishio."
Kenshin mengangguk lalu meninggalkan ruangan.
"Himura, makan siang sudah siap.", kata Misao yang berpapasan dengannya.
Kenshin tidak menanggapinya dan terus berjalan.
"Oi, Himura! Jangan-jangan kau akan pergi dari sini?"
Kenshin menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa kamu jadi menjauh? Apakah karena kami mengetahui kamu adalah Hitokiri Battousai?", tanyanya. "Dengar, ya. Aku sama sekali tidak peduli dengan masa lalumu, yang kutemui itu adalah Himura yang Rurouni."
Kenshin tertawa kecil.
"Nani? Apanya yang lucu?"
"Teman yang berpisah dengan sessha di Tokyo juga mengatakan hal yang sama pada sessha. Sessha sama sekali tidak menyangka akan mendengarnya lagi di kampung halaman sessha ini, Kyoto." Setelah mengatakan itu, Kenshin melanjutkan niatnya untuk pergi dari Aoiya.
"Himura!"
"Misao!", tegur Okina. "Biarkanlah Himura pergi. Semakin kamu membujuknya untuk tinggal semakin kamu akan terluka."
Misao tidak menghiraukan kata-kata Okina dan mengejar Kenshin.
Okina menghela napas dan kembali masuk ke dalam ruangan untuk menemani ketiga tamu barunya.
"Okina-san, bisakah anda menceritakan mengenai apa yang sedang terjadi?", pinta Katsura.
Kakek berambut putih itu meneguk tehnya lalu memandang serius pada kedua lelaki di hadapannya. "Shishio Makoto.", sebutnya. "Pengganti Hitokiri Battousai."
"Pengganti?"
"Seharusnya Shishio sudah terbunuh sepuluh tahun silam, itu yang kami dengar. Tapi ... ternyata dia masih hidup. Dan sekarang melakukan kudeta untuk menguasai Jepang.", kata lelaki tua itu. "Tadinya kami hanya mendengarnya sebagai kabar angin, tetapi melihat Himura ada di Kyoto sekarang ini setelah sekian lama menghindari kota yang menyimpan masa lalu kelamnya, kami jadi semakin yakin dengan kabar angin itu."
Omasu mengantarkan makan siang kepada mereka.
"Jiiya.", panggil Misao. "Ada teman-teman Himura dari Tokyo."
Kaoru dan Yahiko permisi dan memasuki ruangan itu. Seperti yang lainnya, keduanya juga terkejut melihat Himura di sana.
"Kenshin!", panggil keduanya.
Okina menyela. "Ano .. Dia memang Himura Kenshin tetapi bukan Himura-kun yang kalian cari."
"Apa maksudnya?", tanya Yahiko dengan kesal. "Kenshin wa Kenshin!"
"Himura-kun yang kalian temui ini sama sekali belum mengenal kalian. Dengan kata lain, dia adalah Hitokiri Battousai yang entah bagaimana bisa datang ke jaman Meiji ini."
"Sou dessu yo.", Misao membenarkan.
"Yahiko, Kenshin yang kita kenal mempunyai juujikizu di pipi kirinya.", kata Kaoru.
Anak lelaki itu melihat Himura. "Kau benar, Kaoru.", katanya. "Jadi inilah Kenshin saat masih menjadi Hitokiri."
"Himura Battousai tidak sendirian datang ke jaman ini. Yang di sebelah sana adalah Katsura Kogoro, dan gadis ini adalah Yukishiro Tomoe."
"Hajimemashite."
"Oh, hai, Hajimemashite. Watashi wa Kamiya Kaoru. Kore wa Myoujin Yahiko. Yoroshiku onegaishimasu."
"Jaa... Kenshin wa?", tanya Yahiko kepada Okina.
"Dia baru saja pergi dari sini.", jawab Okina.
Kaoru terlihat sangat kecewa. Dia menunduk.
"Apa kalian tahu Himura sedang menghadapi pertarungan yang penting?", tanya Misao.
"Ee.", Kaoru membenarkan.
"Tetapi kalian masih saja jauh-jauh datang dari Tokyo untuk menemuinya?"
Kaoru menggenggam tangannya. "Apa yang akan kau lakukan bila kau adalah aku, Misao-chan?"
Misao terkejut dan teringat dengan pencariannya.
"Aku ingin bertemu dengannya dan juga ...", kata Kaoru yang kemudian pandangannya membara. "... Aku ingin menghajarnya karena sudah membuat kami semua khawatir!!!!"
"Ka...Kaoru-san, kowaii yo.", kata Misao.
"Demo ... Aku ingin mendukungnya. Apapun keputusan yang Kenshin ambil, aku ingin selalu mendukungnya. Setelah urusan di Kyoto selesai, aku ingin mengajaknya bersama-sama kembali ke Tokyo. Semua teman-teman sedang menunggu kepulangannya."
"..."
"Karena itu ... Aku mohon, beritahu aku kemana Kenshin pergi."
"Jiiya!", panggil Misao.
"Wakatta.", kata Okina seraya menyerahkan secarik kertas tadi kepada Misao. "Ini alamat Himura-kun no Shisshou."
"Shisshou? Benar juga. Kenshin pasti mempunyai seorang guru yang mengajarinya Hitten Mitsurugi Ryu. Apa dia lebih kuat dari Kenshin ya?", komentar Yahiko. "Ah, tidak tidak! Aku sudah sering melihatnya bertarung. Kenshin adalah yang terkuat, sampai sekarang dia belum terkalahkan! Tapi untuk apa dia kembali kepada gurunya?"
"Eh, kamu sudah sering melihatnya bertarung?", tanya Misao.
"Tentu saja. Dan jurus favorit Kenshin adalah Ryu Tsui Sen! Aku ingin sekali mencoba gerakan itu! Kakkoi!"
"Ayo, kita temui Kenshin.", kata Kaoru yang kemudian berpamitan pada semuanya.
"Tunggu dulu. Kenshin, kamu tidak mau ikut menemui gurumu?", tanya Yahiko.
Himura menatap anak itu dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
"Gah! Aku lupa. Kamu masih seorang Hitokiri. Sebagai Hitokiri, kamu berbeda sekali dengan Kenshin yang kami kenal. Kenshin yang sekarang, tidak akan ada yang percaya dulunya dia adalah Hitokiri Battousai yang legendaris itu."
"Ano ottoko.", kata Himura dengan suara datar. "Belum tentu shisshou bersedia menemuinya."
"Apa maksudmu, Himura?", tanya Misao.
Pemuda tersebut tidak menjawab apapun dan memilih berdiam diri.
"Kenshin pasti mempunyai kepentingan dengan gurunya.", kata Kaoru.
"Dia harus mau menemui Kenshin!", kata Yahiko.
"Saa... Ikkou.", kata Misao.
"Aku benar-benar tidak menyangka pedang terakhir buatan ayahku adalah sebilah sakabattou.", kata Seiku. "Himura-san, kumohon terimalah pedang ini."
"... Ketika Shakku-dono mendengar sessha mengatakan bahwa sessha tidak akan pernah membunuh lagi, beliau memberikan sessha sebilah sakabattou. Shakku-dono berkata, bila suatu saat nanti sakabattoumu patah dan kamu masih terbuai dengan mimpi mu melindungi orang tanpa membunuh maka datanglah dan cari aku.", cerita Kenshin. "Sessha tidak menyangka itu adalah pertemuan terakhir dengan Shakku-dono." Lalu ia membisu sejenak lalu kembali berkata, "Sessha masih terbuai dengan mimpi ini, ... Maka sessha akan menerima sakabattou shinuchi ini dengan senang hati."
Setelah Seiku dan istrinya berpamitan, suasana kembali menghening.
"Gomen nasai.", sebuah suara lembut terdengar dari balik shoji. "Apakah saya mengganggu?"
Kenshin terkejut dan melihat ke arah pintu. "Ano koe ..."
"Sama sekali tidak. Masuklah.", jawab Okina.
Shoji digeser dan tampaklah seorang wanita berkimono putih dengan harum wewangian plum putih.
Kenshin berdiri dari tempat duduknya dengan mata yang lebih terbelalak lagi. "To ...mo ... e.", sebutnya.
Yukishiro Tomoe juga terkejut, tetapi tidak sekejut Kenshin.
"Oi, Himura. Kamu ini seperti melihat hantu saja.", kata Misao yang kemudian mendekati Tomoe dan mengajaknya duduk bersama.
Pandangan Kenshin tidak pernah lepas dari perempuan lembut itu, kemudian ia duduk dan menunduk.
"Bagaimana kalian bisa sampai di jaman ini, Katsura-san?", tanya Okina yang memulai pembicaraan.
Katsura tersenyum. "Kami juga tidak tahu, Okina-san. Pada awalnya kami memang ingin mencicipi makanan di Aoiya, tiba-tiba dalam perjalanan kami diselimuti kabut tebal, dan setelah itu kami berada di jaman ini.", jawabnya. "Kalau tidak salah, tadi anda menyebut jaman Meiji?"
"Sekarang ini adalah tahun kesebelas Meiji setelah jaman Bakumatsu. Saat ini katana dilarang dibawa di tempat umum. Hanya polisi yang boleh menggunakan katana. Aku yakin ada kalanya Himura-kun mengalami kesulitan dengan membawa katana di pinggangnya."
"Itu artinya kami berhasil menggulingkan Tokugawa.", kata Katsura.
Tomoe memperhatikan Kenshin yang sedaritadi menunduk. "Lalu ... di jaman yang damai ini, kamu masih belum bisa meletakkan katana."
Kenshin menegakkan kepalanya melihat Tomoe. "Kore wa sakabattou de gozaru yo."
Tomoe terkejut mendengar intonasi sang Rurouni.
"Kono katana wa tidak bisa digunakan untuk membunuh. Sessha sudah berjanji akan berhenti membunuh ketika jaman baru dimulai."
"Berjanji kepada siapa?", tanya Himura yang sedaritadi hanya duduk diam sambil memeluk pedangnya di sudut ruangan.
Kenshin tersenyum tipis dan menunduk mengenang. "Kepada seseorang yang telah menyadarkan sessha dari kesalahan yang terlanjur sessha lakukan.", jawabnya. "Sessha harus menebus dosa-dosa dari semua kehidupan yang telah sessha rampas." Kemudian ia menegakkan kepalanya lagi dan melihat Himura. "Ini bukanlah jaman Bakumatsu lagi, jangan membunuh siapapun dengan katanamu. Dan juga ... Sessha sedang diincar, sebaiknya kalian jangan terlihat di luar. Orang-orangnya Shishio ada dimana-mana."
"Shishio?", sebut Katsura dan Himura.
"Tenang saja. Kalian akan aman di sini. Bagaimanapun juga kami adalah Oniwabanshu, penjaga kota Kyoto yang indah ini.", kata Misao dengan penuh semangat.
"Oniwabanshu?!" Himura segera memegang pedangnya dan bergerak melindungi komandannya. "Tomoe! Kemari!"
Misao menghela napas. "Neee, Himura. Kamu jelaskan pada mereka. Aku akan turun dan menyiapkan makan siang untuk kita.", katanya yang lalu meninggalkan ruangan.
"Katsura-san, jaman sudah berubah. Sekarang adalah saatnya semuanya bersatu membangun Meiji. Baik itu orang-orang yang dulunya berpihak kepada Bakufu maupun Isshinshishi, semuanya di jaman ini bersama-sama mempunyai tujuan yang sama.", jelas Kenshin.
"Himura, kamu sudah banyak berubah.", kata Katsura yang kemudian melihat pengawalnya. "Aku tidak menyangka kelak kamu akan berubah menjadi seperti itu."
"Katsura-san!", Himura menjadi salah tingkah.
Kenshin menyelipkan sakabattou di pinggangnya.
"Kamu mau kemana, Himura-kun?", tanya Okina.
"Sessha harus pergi dari sini. Bila Shishio mengetahui keberadaan sessha di Aoiya ini, dia pasti tidak akan tinggal diam. Kalian bisa berada dalam bahaya."
"Tapi ..."
"Okina-san, kami sudah menemukan orang yang anda cari.", kata seorang lelaki bertubuh besar sambil menyerahkan secarik kertas dan kemudian meninggalkan ruangan.
Okina membuka kertas tersebut. "Orang terakhir yang kamu cari sudah ditemukan, Himura-kun.", katanya. "Hiko Seijuro. Sedikit sulit untuk menemukannya karena dia menggunakan nama samaran."
"Shisshou?", sebut Himura.
"Anata no shisshou?", tanya Katsura.
Himura mengangguk.
"Arrigatou, Okina-dono. Jaa, ittekimassu.", pamit Kenshin.
"Himura-kun, ingatlah. Apapun yang terjadi, kami Oniwabanshu selalu berpihak padamu. Bersama-sama melindungi Jepang dari niat iblis Shishio."
Kenshin mengangguk lalu meninggalkan ruangan.
"Himura, makan siang sudah siap.", kata Misao yang berpapasan dengannya.
Kenshin tidak menanggapinya dan terus berjalan.
"Oi, Himura! Jangan-jangan kau akan pergi dari sini?"
Kenshin menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa kamu jadi menjauh? Apakah karena kami mengetahui kamu adalah Hitokiri Battousai?", tanyanya. "Dengar, ya. Aku sama sekali tidak peduli dengan masa lalumu, yang kutemui itu adalah Himura yang Rurouni."
Kenshin tertawa kecil.
"Nani? Apanya yang lucu?"
"Teman yang berpisah dengan sessha di Tokyo juga mengatakan hal yang sama pada sessha. Sessha sama sekali tidak menyangka akan mendengarnya lagi di kampung halaman sessha ini, Kyoto." Setelah mengatakan itu, Kenshin melanjutkan niatnya untuk pergi dari Aoiya.
"Himura!"
"Misao!", tegur Okina. "Biarkanlah Himura pergi. Semakin kamu membujuknya untuk tinggal semakin kamu akan terluka."
Misao tidak menghiraukan kata-kata Okina dan mengejar Kenshin.
Okina menghela napas dan kembali masuk ke dalam ruangan untuk menemani ketiga tamu barunya.
"Okina-san, bisakah anda menceritakan mengenai apa yang sedang terjadi?", pinta Katsura.
Kakek berambut putih itu meneguk tehnya lalu memandang serius pada kedua lelaki di hadapannya. "Shishio Makoto.", sebutnya. "Pengganti Hitokiri Battousai."
"Pengganti?"
"Seharusnya Shishio sudah terbunuh sepuluh tahun silam, itu yang kami dengar. Tapi ... ternyata dia masih hidup. Dan sekarang melakukan kudeta untuk menguasai Jepang.", kata lelaki tua itu. "Tadinya kami hanya mendengarnya sebagai kabar angin, tetapi melihat Himura ada di Kyoto sekarang ini setelah sekian lama menghindari kota yang menyimpan masa lalu kelamnya, kami jadi semakin yakin dengan kabar angin itu."
Omasu mengantarkan makan siang kepada mereka.
"Jiiya.", panggil Misao. "Ada teman-teman Himura dari Tokyo."
Kaoru dan Yahiko permisi dan memasuki ruangan itu. Seperti yang lainnya, keduanya juga terkejut melihat Himura di sana.
"Kenshin!", panggil keduanya.
Okina menyela. "Ano .. Dia memang Himura Kenshin tetapi bukan Himura-kun yang kalian cari."
"Apa maksudnya?", tanya Yahiko dengan kesal. "Kenshin wa Kenshin!"
"Himura-kun yang kalian temui ini sama sekali belum mengenal kalian. Dengan kata lain, dia adalah Hitokiri Battousai yang entah bagaimana bisa datang ke jaman Meiji ini."
"Sou dessu yo.", Misao membenarkan.
"Yahiko, Kenshin yang kita kenal mempunyai juujikizu di pipi kirinya.", kata Kaoru.
Anak lelaki itu melihat Himura. "Kau benar, Kaoru.", katanya. "Jadi inilah Kenshin saat masih menjadi Hitokiri."
"Himura Battousai tidak sendirian datang ke jaman ini. Yang di sebelah sana adalah Katsura Kogoro, dan gadis ini adalah Yukishiro Tomoe."
"Hajimemashite."
"Oh, hai, Hajimemashite. Watashi wa Kamiya Kaoru. Kore wa Myoujin Yahiko. Yoroshiku onegaishimasu."
"Jaa... Kenshin wa?", tanya Yahiko kepada Okina.
"Dia baru saja pergi dari sini.", jawab Okina.
Kaoru terlihat sangat kecewa. Dia menunduk.
"Apa kalian tahu Himura sedang menghadapi pertarungan yang penting?", tanya Misao.
"Ee.", Kaoru membenarkan.
"Tetapi kalian masih saja jauh-jauh datang dari Tokyo untuk menemuinya?"
Kaoru menggenggam tangannya. "Apa yang akan kau lakukan bila kau adalah aku, Misao-chan?"
Misao terkejut dan teringat dengan pencariannya.
"Aku ingin bertemu dengannya dan juga ...", kata Kaoru yang kemudian pandangannya membara. "... Aku ingin menghajarnya karena sudah membuat kami semua khawatir!!!!"
"Ka...Kaoru-san, kowaii yo.", kata Misao.
"Demo ... Aku ingin mendukungnya. Apapun keputusan yang Kenshin ambil, aku ingin selalu mendukungnya. Setelah urusan di Kyoto selesai, aku ingin mengajaknya bersama-sama kembali ke Tokyo. Semua teman-teman sedang menunggu kepulangannya."
"..."
"Karena itu ... Aku mohon, beritahu aku kemana Kenshin pergi."
"Jiiya!", panggil Misao.
"Wakatta.", kata Okina seraya menyerahkan secarik kertas tadi kepada Misao. "Ini alamat Himura-kun no Shisshou."
"Shisshou? Benar juga. Kenshin pasti mempunyai seorang guru yang mengajarinya Hitten Mitsurugi Ryu. Apa dia lebih kuat dari Kenshin ya?", komentar Yahiko. "Ah, tidak tidak! Aku sudah sering melihatnya bertarung. Kenshin adalah yang terkuat, sampai sekarang dia belum terkalahkan! Tapi untuk apa dia kembali kepada gurunya?"
"Eh, kamu sudah sering melihatnya bertarung?", tanya Misao.
"Tentu saja. Dan jurus favorit Kenshin adalah Ryu Tsui Sen! Aku ingin sekali mencoba gerakan itu! Kakkoi!"
"Ayo, kita temui Kenshin.", kata Kaoru yang kemudian berpamitan pada semuanya.
"Tunggu dulu. Kenshin, kamu tidak mau ikut menemui gurumu?", tanya Yahiko.
Himura menatap anak itu dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
"Gah! Aku lupa. Kamu masih seorang Hitokiri. Sebagai Hitokiri, kamu berbeda sekali dengan Kenshin yang kami kenal. Kenshin yang sekarang, tidak akan ada yang percaya dulunya dia adalah Hitokiri Battousai yang legendaris itu."
"Ano ottoko.", kata Himura dengan suara datar. "Belum tentu shisshou bersedia menemuinya."
"Apa maksudmu, Himura?", tanya Misao.
Pemuda tersebut tidak menjawab apapun dan memilih berdiam diri.
"Kenshin pasti mempunyai kepentingan dengan gurunya.", kata Kaoru.
"Dia harus mau menemui Kenshin!", kata Yahiko.
"Saa... Ikkou.", kata Misao.
01 Himura Battousai Meet Himura Kenshin Gumi
1868, Kyoto
Suara langkah kaki yang dengan tenang melangkah membangunkan Battousai yang sedang tidur di dekat jendela. Tidak lama kemudian shoji digeser dan terbuka. Tomoe memasuki kamar yang ditempatinya bersama Himura, "Katsura-san meminta kita pergi bersamanya sore ini.", kata perempuan yang memiliki raut wajah sedingin es itu.
"Kita?", Himura bertanya sambil memandangnya.
"Ee.", Tomoe mengangguk.
Sore itu jalanan mulai menyepi. Orang-orang tidak berani keluar rumah apabila malam mulai menjelang hingga keesokan paginya. Rumor tentang pembunuh berdarah dingin yang berkeliaran setiap malam untuk membunuh sudah beredar ke telinga semua penduduk kota. Karena itu mereka selalu mengunci pintu rapat-rapat untuk melindungi diri dari si pembunuh.
"Katsura-san, kemana tujuan kita?", tanya Himura yang berjalan di sisi komandannya lalu diikuti Tomoe dari belakang.
"Aoiya.", jawab Katsura. "Aku dengar makanan di sana enak-enak."
"Demo...tidak apa-apakah anda pergi ke tempat yang ramai seperti itu? Bagaimana bila ada yang mengenali anda? Terlebih lagi kita tidak tahu apakah Aoiya adalah restoran biasa atau salah satu kedok tempat persembunyian musuh."
"Aku percaya aku akan aman karena ada kamu, Himura.", Katsura tersenyum sambil menoleh ke belakang, "Ne, Tomoe-san?"
"Hai.", tanggap Tomoe.
Dalam perjalan yang berkabut sore itu, suasana jalan semakin sunyi. Kabut yang semakin pekat hingga sulit untuk melihat apapun di sekitar mereka yang kemudian berhenti berjalan. Himura bersiaga memegang katana nya, waspada dengan segala kemungkinan untuk diserang. "Katsura-san, tetaplah bersamaku.", katanya. "Juga Tomoe.", lanjutnya yang kemudian ditanggapi Yukishiro Tomoe dengan anggukan.
Setelah beberapa saat dilalui dengan kewaspadaan, samar-samar terdengar suara keramaian, dan kabut pun mulai menipis hingga akhirnya menghilang sama sekali.
"Aneh.", kata Katsura.
"Doushita no, Katsura-san?", tanya Himura.
"Sesaat yang lalu jalanan ini mulai sepi. Tetapi ini, ... ramai sekali.", jawab Katsura.
Himura dan Tomoe melihat ke sekitarnya. "Aku idak bisa merasakan ki ketakutan dari orang-orang ini.", pikir pemuda berambut merah itu. "Apa yang terjadi di sini?"
Katsura tersenyum menanggapi, "Apapun itu, kita tetap akan pergi ke Aoiya."
Akhirnya mereka sampai di Aoiya.
"Selamat datang.", sambut Omasu. "Are? Himura-san?"
Himura terkejut ada yang mengetahui namanya, begitu juga dengan kedua orang yang sedang bersamanya.
"Ternyata kau sering datang kemari, Himura?", tanya Katsura.
"Ie. ini yang pertama kali.", jawab Himura. "Jangan-jangan...!!!", ia curiga.
"Bukankah kamu sedang di atas bersama Okina?", tanya Omasu.
"Nani?"
"HIMURAAAAA!!!!!! JANGAN PERGI!!!!! PEDANGMU PATAH, KAU BISA TERBUNUH!!!!! HIMURAAAAAA!!!!", suara teriakan dari jendela lantai atas.
Mereka berempat melihat ke atas. Seseorang berpakaian pink dan rambut merah melompat dari jendela dan menghilang dalam sekejap dengan kecepatan larinya.
Mereka tercengang. Tiba-tiba seorang lelaki tua dengan tergesa-gesa turun dari tangga dan keluar.
"Okina! Apa yang terjadi?", tanya Omasu.
"Himura-kun?", sebut kakek itu tercengang. Kemudian ia menyadari setelah melihat sebuah goresan di pipi kiri pemuda itu. "Ini sungguh mengejutkan. Kamu bukan Rurouni, tetapi Hitokiri Battousai, masa lalu nya Himura-kun."
Himura terbelalak dan berpikir, "Orang tua ini bukan orang biasa, namun tidak membahayakan. Shukashi...ore wa ...Rurouni? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Jiiyaaaaaaa...!!!!!", panggil Misao yang sedang berlari ke Aoiya.
"Misao.", sebut Okina.
"Tegami yang kukirim, apa sudah diterima?", tanya gadis itu dengan napas terengah-engah.
"Kita harus segera menyusul Himura-kun!", kata Okina yg kemudian berlari ke kuil yang dituju Kenshin.
"Nani?!!!" Misao berlari menyusulnya. "Aku justru tidak ingin Himura mengetahuinya makanya aku sengaja mengirimkan surat itu padamu! Jiiya benar-benar tidak bisa diandalkan! Sekarang nyawa Himura dalam bahaya!"
"Katsura-san, aku akan ikut mereka. Aku yakin mereka punya petunjuk.", kata Himura.
"Aku juga akan pergi.", kata Katsura.
"Aku juga.", kata Tomoe.
"Kamu tinggal di sini, Tomoe.", Himura melarangnya.
"Demo..."
"Himura benar, Tomoe-san. Tinggallah di sini dan kami akan segera kembali."
"... Hai."
"Aku tidak bisa mencegahnya. Begitu mengetahuinya dia langsung pergi begitu saja.", kata Okina.
Mereka berempat berlari menaiki tangga menuju ke shrine. Di sana sudah ada suami istri Seiku.
"Sudah dimulai!", kata Misao yang melihat Kenshin berdiri berhadapan dengan Katanagari no Chou.
"Himura-kun bertarung dengan sarung pedangnya.", kata Okina.
Himura tercengang melihat lelaki berambut merah itu yang tidak lain adalah dirinya sendiri, hal serupa juga terjadi pada komandannya.
"Sonna..", ucap Himura.
Misao berpaling melihat Himura yang berdiri di sisi kirinya. "Kyaaaa!!!! Kenapa ada dua Himura di sini?"
"Are wa !!! Hati-hati !!!! Di pinggangnya, itu adalah satsujinken aneh buatan ayahku yang sangat mematikan!!! Pedang yang ditempa setipis mungkin agar mempermudah penggunanya untuk menggerakkan pedangnya dengan leluasa!!!", teriak Seiku.
"Kita harus melakukan sesuatu. Pertarungan ini sama sekali tidak menguntungkan Himura, pedangnya patah, kakinya juga terluka.", kata Misao.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Orang itu pasti tidak akan selamat melawan satsujinken buatan ayah.", kata Seiku dengan kepala tertunduk dan memegang keningnya. Suaranya penuh keputusasaan.
"Bagaimana bisa kau berkata begitu! Himura langsung datang begitu menerima kabar bahwa anakmu diculik, dia tetap datang walaupun pedangnya patah!", tegur Misao.
"Aku sama sekali tidak memintanya untuk melakukannya. Dia melakukannya atas kehendaknya sendiri."
Misao dan Katsura melihat Seiku dengan penuh kekesalan.
Okina menahan tangan Misao yang hendak memukul pria lemah itu. "Seharusnya kau tahu siapa yang hendak Himura lindungi. Himura sama sekali tidak peduli dengan dirinya sendiri tetapi dia tetap datang untuk menyelamatkan anakmu."
Himura melangkah maju hendak memasuki area pertarungan. "Mundurlah. Biar aku yang menghadapinya."
Kenshin melihat pemuda itu dan tercengang. "Nani?"
"Yare, yare. Ternyata kau mempunyai kembaran ya? Ini akan menjadi pertarungan yang menyenangkan.", kata Chou.
"Ini adalah pertarunganku dan juga ... Tidak akan kubiarkan siapapun terbunuh di sini.", kata Kenshin.
"Kalau begitu, pakailah katana ini.", kata Himura.
"Ie.", tolak Kenshin.
"Tanpa katana kau tidak mungkin bisa menang!", bujuk Himura yang meninggikan suaranya.
"MUNDUR KATAKU!!!", Kenshin menegurnya.
Seiku berlari memasuki area pertarungan dan hendak masuk ke dalam shrine untuk mendapatkan pedangnterakhir buatan ayahnya. Kenshin berhasil melindunginya dari serangan Chou. Setelah mengambil pedang tersebut, ia segera melemparkannya kepada Kenshin. "Himura-san! Pakailah pedang terakhir buatan ayahku ini! Kaulah yang pantas untuk memilikinya!", ia berteriak dari depan pintu shrine.
"Yatta!!! Ikke, Himura!!! Dengan pedang di tanganmu, dia pasti kalah!!!", kata Misao dengan penuh semangat.
"..."
"...!!!??? Doushita, Himura? Kenapa Himura tidak mencabut pedangnya?"
"Himura tidak ingin menggunakan pedang lain selain sakabattou.", jawab Okina.
Katsura dan pengawalnya terkejut mendengar jawaban itu. "Sakabattou?", sebut Katsura.
Misao terlihat kesal. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan masa lalu Himura! Sekarang masalahnya dia akan terbunuh kalau tidak menggunakan katana itu!"
"Masa lalu itulah yang menjadi masalahnya. Bila Himura menggunakan katana lain selain sakabattou, maka dia akan melanggar sumpah yang dijaganya selama ini, menjadi Hitokiri Battousai dan tidak bisa lagi kembali menjadi Rurouni."
Misao terbelalak terkejut. "Hitokiri ... Battousai. Himura ga ..."
Banyak hal yang memenuhi pikiran Katsura saat itu. "Himura berhenti membunuh?", salah satu pertanyaan yang muncul di benak kedua orang yang melewati dimensi waktu itu.
Tiba-tiba terdengar suara tebasan pedang dan Chou terhempas ke tanah.
"Cepat sekali ... gerakannya. Itukah Hitten Mitsurugi Ryu?", pikir Katsura.
"Dia melakukannya.", kata Okina.
Keadaan menghening sejenak sampai suara teriakan Seiku memecah keheningan tersebut.
"Himura-san! Lihatlah pedangmu!", kata Seiku sambil berlari mendekati Kenshin.
"Sakabattou?!!!", kejut Misao. "Itu artinya ... Himura, kamu tidak membunuhnya! Kamu tidak melanggar sumpahmu!"
Katsura mendekati lelaki yang memiliki juujikizu di pipi kirinya lalu menyapanya sambil tersenyum, "Himura."
Kenshin terkejut mendengar suara yang tidak asing itu lalu menoleh ke arah datangnya suara. "Katsura-san?!!", sebutnya. "Bagaimana ..." Lalu pandangannya teralih ke sosok yang tidak lain adalah dirinya sendiri dari masa lalu. "Sonna ..."
"Himura-kun, aku juga tidak mengerti bagaimana kedua orang ini bisa tiba-tiba muncul di jaman Meiji ini. Sebaiknya kita bicarakan di Aoiya.", kata Okina.
"Mengenai Chou, serahkan dia ke kantor polisi. Saitou yang akan mengurusnya.", kata Kenshin.
"Saitou? Maksudmu mantan ketua regu tiga Shinsengumi, Saitou Hajime?", sebut Okina.
"Aa.", Kenshin membenarkan. "Namanya yang sekarang adalah Fujita Goro."
Suara langkah kaki yang dengan tenang melangkah membangunkan Battousai yang sedang tidur di dekat jendela. Tidak lama kemudian shoji digeser dan terbuka. Tomoe memasuki kamar yang ditempatinya bersama Himura, "Katsura-san meminta kita pergi bersamanya sore ini.", kata perempuan yang memiliki raut wajah sedingin es itu.
"Kita?", Himura bertanya sambil memandangnya.
"Ee.", Tomoe mengangguk.
Sore itu jalanan mulai menyepi. Orang-orang tidak berani keluar rumah apabila malam mulai menjelang hingga keesokan paginya. Rumor tentang pembunuh berdarah dingin yang berkeliaran setiap malam untuk membunuh sudah beredar ke telinga semua penduduk kota. Karena itu mereka selalu mengunci pintu rapat-rapat untuk melindungi diri dari si pembunuh.
"Katsura-san, kemana tujuan kita?", tanya Himura yang berjalan di sisi komandannya lalu diikuti Tomoe dari belakang.
"Aoiya.", jawab Katsura. "Aku dengar makanan di sana enak-enak."
"Demo...tidak apa-apakah anda pergi ke tempat yang ramai seperti itu? Bagaimana bila ada yang mengenali anda? Terlebih lagi kita tidak tahu apakah Aoiya adalah restoran biasa atau salah satu kedok tempat persembunyian musuh."
"Aku percaya aku akan aman karena ada kamu, Himura.", Katsura tersenyum sambil menoleh ke belakang, "Ne, Tomoe-san?"
"Hai.", tanggap Tomoe.
Dalam perjalan yang berkabut sore itu, suasana jalan semakin sunyi. Kabut yang semakin pekat hingga sulit untuk melihat apapun di sekitar mereka yang kemudian berhenti berjalan. Himura bersiaga memegang katana nya, waspada dengan segala kemungkinan untuk diserang. "Katsura-san, tetaplah bersamaku.", katanya. "Juga Tomoe.", lanjutnya yang kemudian ditanggapi Yukishiro Tomoe dengan anggukan.
Setelah beberapa saat dilalui dengan kewaspadaan, samar-samar terdengar suara keramaian, dan kabut pun mulai menipis hingga akhirnya menghilang sama sekali.
"Aneh.", kata Katsura.
"Doushita no, Katsura-san?", tanya Himura.
"Sesaat yang lalu jalanan ini mulai sepi. Tetapi ini, ... ramai sekali.", jawab Katsura.
Himura dan Tomoe melihat ke sekitarnya. "Aku idak bisa merasakan ki ketakutan dari orang-orang ini.", pikir pemuda berambut merah itu. "Apa yang terjadi di sini?"
Katsura tersenyum menanggapi, "Apapun itu, kita tetap akan pergi ke Aoiya."
Akhirnya mereka sampai di Aoiya.
"Selamat datang.", sambut Omasu. "Are? Himura-san?"
Himura terkejut ada yang mengetahui namanya, begitu juga dengan kedua orang yang sedang bersamanya.
"Ternyata kau sering datang kemari, Himura?", tanya Katsura.
"Ie. ini yang pertama kali.", jawab Himura. "Jangan-jangan...!!!", ia curiga.
"Bukankah kamu sedang di atas bersama Okina?", tanya Omasu.
"Nani?"
"HIMURAAAAA!!!!!! JANGAN PERGI!!!!! PEDANGMU PATAH, KAU BISA TERBUNUH!!!!! HIMURAAAAAA!!!!", suara teriakan dari jendela lantai atas.
Mereka berempat melihat ke atas. Seseorang berpakaian pink dan rambut merah melompat dari jendela dan menghilang dalam sekejap dengan kecepatan larinya.
Mereka tercengang. Tiba-tiba seorang lelaki tua dengan tergesa-gesa turun dari tangga dan keluar.
"Okina! Apa yang terjadi?", tanya Omasu.
"Himura-kun?", sebut kakek itu tercengang. Kemudian ia menyadari setelah melihat sebuah goresan di pipi kiri pemuda itu. "Ini sungguh mengejutkan. Kamu bukan Rurouni, tetapi Hitokiri Battousai, masa lalu nya Himura-kun."
Himura terbelalak dan berpikir, "Orang tua ini bukan orang biasa, namun tidak membahayakan. Shukashi...ore wa ...Rurouni? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Jiiyaaaaaaa...!!!!!", panggil Misao yang sedang berlari ke Aoiya.
"Misao.", sebut Okina.
"Tegami yang kukirim, apa sudah diterima?", tanya gadis itu dengan napas terengah-engah.
"Kita harus segera menyusul Himura-kun!", kata Okina yg kemudian berlari ke kuil yang dituju Kenshin.
"Nani?!!!" Misao berlari menyusulnya. "Aku justru tidak ingin Himura mengetahuinya makanya aku sengaja mengirimkan surat itu padamu! Jiiya benar-benar tidak bisa diandalkan! Sekarang nyawa Himura dalam bahaya!"
"Katsura-san, aku akan ikut mereka. Aku yakin mereka punya petunjuk.", kata Himura.
"Aku juga akan pergi.", kata Katsura.
"Aku juga.", kata Tomoe.
"Kamu tinggal di sini, Tomoe.", Himura melarangnya.
"Demo..."
"Himura benar, Tomoe-san. Tinggallah di sini dan kami akan segera kembali."
"... Hai."
"Aku tidak bisa mencegahnya. Begitu mengetahuinya dia langsung pergi begitu saja.", kata Okina.
Mereka berempat berlari menaiki tangga menuju ke shrine. Di sana sudah ada suami istri Seiku.
"Sudah dimulai!", kata Misao yang melihat Kenshin berdiri berhadapan dengan Katanagari no Chou.
"Himura-kun bertarung dengan sarung pedangnya.", kata Okina.
Himura tercengang melihat lelaki berambut merah itu yang tidak lain adalah dirinya sendiri, hal serupa juga terjadi pada komandannya.
"Sonna..", ucap Himura.
Misao berpaling melihat Himura yang berdiri di sisi kirinya. "Kyaaaa!!!! Kenapa ada dua Himura di sini?"
"Are wa !!! Hati-hati !!!! Di pinggangnya, itu adalah satsujinken aneh buatan ayahku yang sangat mematikan!!! Pedang yang ditempa setipis mungkin agar mempermudah penggunanya untuk menggerakkan pedangnya dengan leluasa!!!", teriak Seiku.
"Kita harus melakukan sesuatu. Pertarungan ini sama sekali tidak menguntungkan Himura, pedangnya patah, kakinya juga terluka.", kata Misao.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Orang itu pasti tidak akan selamat melawan satsujinken buatan ayah.", kata Seiku dengan kepala tertunduk dan memegang keningnya. Suaranya penuh keputusasaan.
"Bagaimana bisa kau berkata begitu! Himura langsung datang begitu menerima kabar bahwa anakmu diculik, dia tetap datang walaupun pedangnya patah!", tegur Misao.
"Aku sama sekali tidak memintanya untuk melakukannya. Dia melakukannya atas kehendaknya sendiri."
Misao dan Katsura melihat Seiku dengan penuh kekesalan.
Okina menahan tangan Misao yang hendak memukul pria lemah itu. "Seharusnya kau tahu siapa yang hendak Himura lindungi. Himura sama sekali tidak peduli dengan dirinya sendiri tetapi dia tetap datang untuk menyelamatkan anakmu."
Himura melangkah maju hendak memasuki area pertarungan. "Mundurlah. Biar aku yang menghadapinya."
Kenshin melihat pemuda itu dan tercengang. "Nani?"
"Yare, yare. Ternyata kau mempunyai kembaran ya? Ini akan menjadi pertarungan yang menyenangkan.", kata Chou.
"Ini adalah pertarunganku dan juga ... Tidak akan kubiarkan siapapun terbunuh di sini.", kata Kenshin.
"Kalau begitu, pakailah katana ini.", kata Himura.
"Ie.", tolak Kenshin.
"Tanpa katana kau tidak mungkin bisa menang!", bujuk Himura yang meninggikan suaranya.
"MUNDUR KATAKU!!!", Kenshin menegurnya.
Seiku berlari memasuki area pertarungan dan hendak masuk ke dalam shrine untuk mendapatkan pedangnterakhir buatan ayahnya. Kenshin berhasil melindunginya dari serangan Chou. Setelah mengambil pedang tersebut, ia segera melemparkannya kepada Kenshin. "Himura-san! Pakailah pedang terakhir buatan ayahku ini! Kaulah yang pantas untuk memilikinya!", ia berteriak dari depan pintu shrine.
"Yatta!!! Ikke, Himura!!! Dengan pedang di tanganmu, dia pasti kalah!!!", kata Misao dengan penuh semangat.
"..."
"...!!!??? Doushita, Himura? Kenapa Himura tidak mencabut pedangnya?"
"Himura tidak ingin menggunakan pedang lain selain sakabattou.", jawab Okina.
Katsura dan pengawalnya terkejut mendengar jawaban itu. "Sakabattou?", sebut Katsura.
Misao terlihat kesal. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan masa lalu Himura! Sekarang masalahnya dia akan terbunuh kalau tidak menggunakan katana itu!"
"Masa lalu itulah yang menjadi masalahnya. Bila Himura menggunakan katana lain selain sakabattou, maka dia akan melanggar sumpah yang dijaganya selama ini, menjadi Hitokiri Battousai dan tidak bisa lagi kembali menjadi Rurouni."
Misao terbelalak terkejut. "Hitokiri ... Battousai. Himura ga ..."
Banyak hal yang memenuhi pikiran Katsura saat itu. "Himura berhenti membunuh?", salah satu pertanyaan yang muncul di benak kedua orang yang melewati dimensi waktu itu.
Tiba-tiba terdengar suara tebasan pedang dan Chou terhempas ke tanah.
"Cepat sekali ... gerakannya. Itukah Hitten Mitsurugi Ryu?", pikir Katsura.
"Dia melakukannya.", kata Okina.
Keadaan menghening sejenak sampai suara teriakan Seiku memecah keheningan tersebut.
"Himura-san! Lihatlah pedangmu!", kata Seiku sambil berlari mendekati Kenshin.
"Sakabattou?!!!", kejut Misao. "Itu artinya ... Himura, kamu tidak membunuhnya! Kamu tidak melanggar sumpahmu!"
Katsura mendekati lelaki yang memiliki juujikizu di pipi kirinya lalu menyapanya sambil tersenyum, "Himura."
Kenshin terkejut mendengar suara yang tidak asing itu lalu menoleh ke arah datangnya suara. "Katsura-san?!!", sebutnya. "Bagaimana ..." Lalu pandangannya teralih ke sosok yang tidak lain adalah dirinya sendiri dari masa lalu. "Sonna ..."
"Himura-kun, aku juga tidak mengerti bagaimana kedua orang ini bisa tiba-tiba muncul di jaman Meiji ini. Sebaiknya kita bicarakan di Aoiya.", kata Okina.
"Mengenai Chou, serahkan dia ke kantor polisi. Saitou yang akan mengurusnya.", kata Kenshin.
"Saitou? Maksudmu mantan ketua regu tiga Shinsengumi, Saitou Hajime?", sebut Okina.
"Aa.", Kenshin membenarkan. "Namanya yang sekarang adalah Fujita Goro."
Langganan:
Postingan (Atom)