Tomoe masuk ke dalam kamar Himura yang sedang duduk di sudut ruangan. Himura sedang melamun tetapi ia menyadari kehadiran Tomoe ketika masuk.
"Apa aku mengganggu?", tanya Tomoe.
"Ie."
Tomoe mengambil tempat yang tidak jauh dari pemuda itu, lalu duduk bersujud.
"Kamiya-san sangat peduli dengan dirimu di masa depan."
Himura memandangnya. "..."
"Melihat dirimu yang akan datang, aku seperti melihat dua orang yang berbeda. Saat ini kamu mempertahankan pandanganmu untuk membunuh demi masa depan yang kalian impikan. Sedangkan dia, ... tidak akan membunuh sekalipun itu adalah musuhnya. Seandainya saja kamu ...", perkataan Tomoe terhenti. "Apa yang membuatnya bersumpah untuk tidak membunuh lagi?"
"Ore wa Hitokiri, aku tidak bisa menjadi yang lain. Aku bukan milik jaman ini."
Hawa membunuh terasa dengan sangat jelas oleh Himura. Ia segera bergegas menitipkan Tomoe kepada Katsura. Sedangkan ia sendiri bersembunyi di balik bayangan malam itu, mengawasi hawa para pembunuh yang menyelinap masuk ke Aoiya.
Belum sempat para pembunuh kiriman Hoji bergerak melukai satu orang pun yang tinggal di sana, Himura sudah berhasil membunuh mereka, hanya tinggal satu penyelinap lagi yang berhasil masuk ke kamar Okina. Tetapi Okina berhasil menangkapnya sebelum Himura berhasil membunuhnya.
"Aoshi benar-benar sudah kehilangan arah.", kata Okina. "Aku akan mengirim pesan padanya."
"Himura, apa kamu yang membunuh orang-orang itu?", tanya seorang dari Oniwabanshu.
"Aku hanya menjalankan tugasku untuk melindungi Katsura-san."
Okina menghela napas. "Aku harap kamu tidak melakukannya lagi."
"Apa yang terjadi?", tanya Katsura yang baru tiba di kamar Okina.
"Orang-orangnya Shishio menyerang kita.", jawab Himura.
"Tidak. Ini bukan atas perintah Shishio. Aku yakin ini adalah perbuatan Aoshi. Dia sudah tidak pantas menjadi Okashira. Bersekutu dengan Shishio demi sebuah pertarungan dengan Himura. Aku benar-benar harus membunuhnya dengan tanganku sendiri.", kata Okina.
Keesokan paginya.
Begitu Misao mengetahui bahwa Okina pergi bertarung dengan Aoshi, ia langsung pergi ke tempat kejadian. Yang bisa ia lakukan hanyalah membawa orang tua yang dalam keadaan luka parah dan tidak sadarkan diri itu kembali ke Aoiya.
Gadis berumur 16 tahun itu mengangkat dirinya sebagai Okashira yang baru.
"Kamiya-san.", panggil Himura yang berdiri di depan kamar Kaoru dan Yahiko. "Apa aku bisa bicara denganmu sebentar?"
Yahiko menggeser shoji dan mengijinkan Himura masuk. Pemuda berambut merah itu terkejut melihat Tomoe yang ternyata berada di sana. Tomoe hendak berpamitan dengan mereka tetapi ditahan oleh Kaoru. Battousai mengambil tempat di hadapan Kaoru dan Yahiko.
"Ada perlu apa, ... Kenshin?", tanya Kaoru yang ragu menyebut nama sang Hitokiri. "Apakah boleh aku memanggilmu Kenshin?"
"Kalian memang orang yang sama, tapi tetap terasa aneh memanggilmu Kenshin. Walaupun orang yang sama tapi kalian memiliki keseharian yang sangat berbeda.", celetuk Yahiko sambil mengorek teliga dengan jari kelingkingnya.
"Aku tidak keberatan.", jawab Himura.
"Jadi apa yang ingin kamu ketahui?", tanya Kaoru.
"Ore no shisshou. Aitsu wa genki ka?", tanyanya.
"Hai. Hiko-san terlihat sangat sehat."
"Dia kembali kepada shisshou untuk mempelajari jurus itu, apa shisshou bersedia mengajarinya?"
"Untung kami ke sana. Kenshin dimarahi habis-habisan oleh lelaki sombong itu, dia bahkan diusir.", kata Yahiko. "Awalnya dia tidak mau menurunkan ogi kepada Kenshin. Tapi setelah kami menceritakan apa saja yang Kenshin lakukan sejak bakumatsu berakhir, dia baru bersedia mengajarinya.", lanjutnya. "Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian? Omae no shisshou benar-benar marah sekali padamu!"
Himura menunduk. "Kami bertengkar. Lalu aku meninggalkannya."
"Bertengkar?"
"Kalian berdua benar-benar tidak mirip.", kata Yahiko.
"Aku tidak pernah menyangka Kenshin bisa juga bertengkar.", Kaoru tertawa kecil. "Aku juga baru sadar kalau Kenshin juga pernah melewati masa remaja yang penuh emosi."
Tomoe melihat Kaoru dengan rasa ingin tahu. "Memangnya apa yang kalian ketahui mengenai dia yang sekarang?"
"Tomoe-san, kamu tidak akan pernah menyangka.", jawab Kaoru.
"Kesehariannya ya mencuci baju, bersih-bersih rumah, ke pasar, menyiapkan makan pagi siang dan malam, juga babysitting dan menyiapkan air panas untuk si Busu mandi.", jelas Yahiko.
Mata Tomoe terbelalak terkejut.
Kaoru meninju Yahiko.
"Uso.", kata Himura yang tidak mempercayainya.
"Uso ja nai yo.", kata Kaoru. "Kenshin bilang dia sangat menyukai melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Tapi aku kesal juga, dia selalu mengerjakannya dengan sangat sempurna daripada aku."
"Justru karena kamu tidak bisa mengerjakannya dengan benar jadinya Kenshin yang turun tangan.", kata Yahiko.
Kaoru meninjunya lagi. "Dasar tidak sopan!"
"Ugh! Itu kan kenyataannya! Masakan Kenshin jauh lebih baik dan aman daripada masakanmu!"
Keduanya bertengkar dan saling mencubit pipi lawannya.
"Walaupun itu kenyataannya kamu tidak perlu mengatakannya di depan mereka berdua!"
Tomoe melihat Himura. Wanita lembut itu masih sulit mempercayai semua yang dikatakan kedua orang dari Tokyo itu.
Kemudian Katsura juga ikut bergabung dengan mereka. Katsura adalah yang paling penasaran dengan kehidupan Hitokirinya di masa yang akan datang.
"Apa aku melewatkan sesuatu?", tanya Katsura dengan senyum khas nya.
"Ie.", jawab Himura.
"Himura sudah lama tinggal bersama kalian di Tokyo?"
"Sebenarnya belum satu tahun Kenshin tinggal di dojo.", jawab Kaoru. "Tapi bagi kami Kenshin sudah seperti keluarga. Teman-teman menunggunya kembali."
"Semua ini gara-gara Si tua Okubo! Kalau dia tidak datang mencari Kenshin, maka kami masih akan baik-baik saja di Tokyo.", kata Yahiko.
"Okubo-san?", sebut Katsura.
"Ie, Yahiko.", kata Kaoru. "Sebelum itu Kenshin juga sudah sering terlihat murung dan melamun terus."
"Kamiya-san, tolong ceritakan.", kata Hiimura.
Kaoru menunduk. "Kira-kira satu minggu sebelum kedatangan Okubo ke dojo. Kenshin sudah sering terlihat melamun. Kenshin tetap melakukan rutinitasnya sehari-hari. Tapi dia sering melamun, dipanggil pun tidak tahu, dan bahkan saat sedang menemani Ayame-chan to Suzume-chan bermain, dia pun melamun.", kata Kaoru. "Sampai saat Genzai-sensei mengundang kami makan di Akabeko, di perjalanan Kenshin baru menceritakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia bilang akhir-akhir ini dia sering mimpi buruk, mimpi tentang masa lalu saat masih menjadi Hitokiri. Kenshin menceritakan pertarungannya dengan para ketua regu Shinsengumi. Yang membuatku merasa aneh adalah Kenshin menceritakan tentang masa lalunya yang selama ini tidak pernah dia bicarakan. Makannya juga tidak banyak."
"Terlebih lagi setelah pulang dari Akabeko dan menemukan Sanosuke pingsan dan terluka parah.", sambung Yahiko.
Kaoru mengangguk. "Kenshin menyendiri terus di dojo. Tatapannya sangat mengerikan. Tidak ada yang berani mendekatinya. Aku yakin dia mulai mencurigai seseorang yang mampu melukai Sanosuke separah itu."
"Keesokan sorenya aku melihat Kenshin pergi setelah membaca sebuah surat. Aku tidak tahu surat apa itu, tapi yang pasti dia kelihatan sangat serius."
"Sementara Kenshin pergi, kami kedatangan seorang polisi yang bernama Fujita Goro."
"Fujita Goro!!??", sebut Himura terkejut. "Kemarin aku mendengarnya menyebut nama itu."
Kaoru mengangguk. "Kami tidak tahu kalau Fujita Goro adalah mantan ketua regu tiga Shinsengumi, Saito Hajime. Kami baru tahu setelah Kenshin kembali dan menemuinya. Ternyata Saito lah yang melukai Sanosuke. Lalu ..."
"Lalu apa yang terjadi Kamiya-san?"
"Keduanya bertarung. Kenshin terluka. Namun perlahan tapi pasti gerakan Kenshin semakin cepat, hingga ..."
"Kenshin kehilangan kendali atas dirinya dan kembali menjadi Hitokiri Battousai.", sambung Yahiko. "Kami belum pernah melihatnya bertarung dengan begitu mengerikan. Setiap serangannya sangat mematikan. Kalau itu bukan sakabattou, Leher Saito pasti sudah putus waktu itu."
Katsura memandang Kaoru. "Bagaimana kalian bisa membedakan Himura yang Rurouni dan Himura yang Hitokiri?"
"Pandangannya.", jawab Kaoru. "Juga ucapannya. Kenshin selalu menyebut dirinya dengan sessha, sedangkan Hitokiri Battousai mengatakan ore. Selain itu, saat itu dia mengatakan 'akulah yang akan membunuhmu'."
"Tapi aku benar-benar terkejut melihat pertarungan mereka. Sugoi na.", kata Yahiko.
"Berkali-kali aku memanggilnya, tapi Kenshin sepertinya tidak bisa mendengarku."
"Dan akhirnya pertarungan mereka harus dihentikan tanpa diketahui siapa pemenangnya dengan kedatangan Si tua Okubo. Dan ternyata Saito sengaja diutus untuk bertarung dengan Kenshin. Mereka ingin mengetahui kekuatan Kenshin."
"Aku jadi lega setelah Kenshin kembali menjadi dirinya."
"Mereka menceritakan tentang Shishio dan meminta Kenshin untuk membunuhnya. Si pendek Kawaji itu mengancam Kenshin kalau dia tidak bersedia menerima tugas itu, maka kami teman-temannya akan ditangkap karena masa lalu kami yang juga kelam sebelum bertemu Kenshin.
"Tapi Kenshin memutuskan untuk datang ke Kyoto bukan karena ancaman itu, Yahiko."
"Aaa...wakatta yo, Busu. Karena Si tua Okubo dibunuh oleh orangnya Shishio kan."
Kaoru meninjunya. "Jaga bicaramu!"
"Okubo-san dibunuh?", Katsura dan Himura terkejut.
Kaoru mengangguk. "Selain itu, ada alasan lain juga, Katsura-san. Walaupun Kenshin tidak pernah mengatakannya, aku tahu Kenshin menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang dilakukan Shishio saat ini, juga dia pergi karena tidak ingin kami terlibat."
"Setelah tahu begitu, anda masih saja datang ke Kyoto, Kamiya-san?", tanya Katsura.
"Aku ingin Kenshin tahu, kami menunggunya kembali, dan juga akan selalu membantunya apapun yang terjadi. Aku ingin dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Bersama-sama menghadapi Shishio akan lebih baik daripada sendirian. Kami tidak ingin menjadi bebannya."
Katsura melihat Himura. "Kamu sangat beruntung akan memiliki teman-teman yang begitu menyayangimu, Himura."
"Ngomong-ngomong, Sanosuke sudah sampai belum sih di Kyoto? Jangan-jangan si bodoh itu tersesat.", kata Yahiko.
"Iya, ya.", tanggap Kaoru.
"Kaoru-san!", panggil Misao yang sedang berlari ke kamarnya. "Kaoru-san! Ada surat dari Himura!"
Kaoru terlihat senang dan menerima surat itu dari Misao lalu membacanya. Mata gadis berambut kucir kuda tersebut terbelalak.
"Doushimashita?", tanya Himura.
"Kenshin bilang Shishio akan membakar Kyoto tengah malam ini."
"NANIIIII??!!!", seru Misao.
"Jaa Kenshin wa?", tanya Yahiko.
"Kenshin beserta Saito dan Sanosuke sedang menuju ke pelabuhan di Osaka untuk menghentikan Shishio yang akan bergerak menuju Tokyo. Sasaran mereka yang sebenarnya adalah Tokyo."
"Tokyo?"
"Mereka bermaksud mengalihkan perhatian pemerintah dengan membakar Kyoto. Padahal sebenarnya mereka mengincar Tokyo. Pusat pemerintahan Jepang.", kata Katsura.
"Aku Oniwabanshu no Okashira harus melindungi Kyoto. Aku akan memberitahu semua penduduk Kyoto untuk bersama-sama mencegah pembakaran ini!"
Kaoru dan Yahiko mengangguk.
Merpati pos pun dilepas untuk memberitahukan pada seluruh penduduk Kyoto. Malam yang mencekam pun dimulai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar