1868, Kyoto
Suara langkah kaki yang dengan tenang melangkah membangunkan Battousai yang sedang tidur di dekat jendela. Tidak lama kemudian shoji digeser dan terbuka. Tomoe memasuki kamar yang ditempatinya bersama Himura, "Katsura-san meminta kita pergi bersamanya sore ini.", kata perempuan yang memiliki raut wajah sedingin es itu.
"Kita?", Himura bertanya sambil memandangnya.
"Ee.", Tomoe mengangguk.
Sore itu jalanan mulai menyepi. Orang-orang tidak berani keluar rumah apabila malam mulai menjelang hingga keesokan paginya. Rumor tentang pembunuh berdarah dingin yang berkeliaran setiap malam untuk membunuh sudah beredar ke telinga semua penduduk kota. Karena itu mereka selalu mengunci pintu rapat-rapat untuk melindungi diri dari si pembunuh.
"Katsura-san, kemana tujuan kita?", tanya Himura yang berjalan di sisi komandannya lalu diikuti Tomoe dari belakang.
"Aoiya.", jawab Katsura. "Aku dengar makanan di sana enak-enak."
"Demo...tidak apa-apakah anda pergi ke tempat yang ramai seperti itu? Bagaimana bila ada yang mengenali anda? Terlebih lagi kita tidak tahu apakah Aoiya adalah restoran biasa atau salah satu kedok tempat persembunyian musuh."
"Aku percaya aku akan aman karena ada kamu, Himura.", Katsura tersenyum sambil menoleh ke belakang, "Ne, Tomoe-san?"
"Hai.", tanggap Tomoe.
Dalam perjalan yang berkabut sore itu, suasana jalan semakin sunyi. Kabut yang semakin pekat hingga sulit untuk melihat apapun di sekitar mereka yang kemudian berhenti berjalan. Himura bersiaga memegang katana nya, waspada dengan segala kemungkinan untuk diserang. "Katsura-san, tetaplah bersamaku.", katanya. "Juga Tomoe.", lanjutnya yang kemudian ditanggapi Yukishiro Tomoe dengan anggukan.
Setelah beberapa saat dilalui dengan kewaspadaan, samar-samar terdengar suara keramaian, dan kabut pun mulai menipis hingga akhirnya menghilang sama sekali.
"Aneh.", kata Katsura.
"Doushita no, Katsura-san?", tanya Himura.
"Sesaat yang lalu jalanan ini mulai sepi. Tetapi ini, ... ramai sekali.", jawab Katsura.
Himura dan Tomoe melihat ke sekitarnya. "Aku idak bisa merasakan ki ketakutan dari orang-orang ini.", pikir pemuda berambut merah itu. "Apa yang terjadi di sini?"
Katsura tersenyum menanggapi, "Apapun itu, kita tetap akan pergi ke Aoiya."
Akhirnya mereka sampai di Aoiya.
"Selamat datang.", sambut Omasu. "Are? Himura-san?"
Himura terkejut ada yang mengetahui namanya, begitu juga dengan kedua orang yang sedang bersamanya.
"Ternyata kau sering datang kemari, Himura?", tanya Katsura.
"Ie. ini yang pertama kali.", jawab Himura. "Jangan-jangan...!!!", ia curiga.
"Bukankah kamu sedang di atas bersama Okina?", tanya Omasu.
"Nani?"
"HIMURAAAAA!!!!!! JANGAN PERGI!!!!! PEDANGMU PATAH, KAU BISA TERBUNUH!!!!! HIMURAAAAAA!!!!", suara teriakan dari jendela lantai atas.
Mereka berempat melihat ke atas. Seseorang berpakaian pink dan rambut merah melompat dari jendela dan menghilang dalam sekejap dengan kecepatan larinya.
Mereka tercengang. Tiba-tiba seorang lelaki tua dengan tergesa-gesa turun dari tangga dan keluar.
"Okina! Apa yang terjadi?", tanya Omasu.
"Himura-kun?", sebut kakek itu tercengang. Kemudian ia menyadari setelah melihat sebuah goresan di pipi kiri pemuda itu. "Ini sungguh mengejutkan. Kamu bukan Rurouni, tetapi Hitokiri Battousai, masa lalu nya Himura-kun."
Himura terbelalak dan berpikir, "Orang tua ini bukan orang biasa, namun tidak membahayakan. Shukashi...ore wa ...Rurouni? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Jiiyaaaaaaa...!!!!!", panggil Misao yang sedang berlari ke Aoiya.
"Misao.", sebut Okina.
"Tegami yang kukirim, apa sudah diterima?", tanya gadis itu dengan napas terengah-engah.
"Kita harus segera menyusul Himura-kun!", kata Okina yg kemudian berlari ke kuil yang dituju Kenshin.
"Nani?!!!" Misao berlari menyusulnya. "Aku justru tidak ingin Himura mengetahuinya makanya aku sengaja mengirimkan surat itu padamu! Jiiya benar-benar tidak bisa diandalkan! Sekarang nyawa Himura dalam bahaya!"
"Katsura-san, aku akan ikut mereka. Aku yakin mereka punya petunjuk.", kata Himura.
"Aku juga akan pergi.", kata Katsura.
"Aku juga.", kata Tomoe.
"Kamu tinggal di sini, Tomoe.", Himura melarangnya.
"Demo..."
"Himura benar, Tomoe-san. Tinggallah di sini dan kami akan segera kembali."
"... Hai."
"Aku tidak bisa mencegahnya. Begitu mengetahuinya dia langsung pergi begitu saja.", kata Okina.
Mereka berempat berlari menaiki tangga menuju ke shrine. Di sana sudah ada suami istri Seiku.
"Sudah dimulai!", kata Misao yang melihat Kenshin berdiri berhadapan dengan Katanagari no Chou.
"Himura-kun bertarung dengan sarung pedangnya.", kata Okina.
Himura tercengang melihat lelaki berambut merah itu yang tidak lain adalah dirinya sendiri, hal serupa juga terjadi pada komandannya.
"Sonna..", ucap Himura.
Misao berpaling melihat Himura yang berdiri di sisi kirinya. "Kyaaaa!!!! Kenapa ada dua Himura di sini?"
"Are wa !!! Hati-hati !!!! Di pinggangnya, itu adalah satsujinken aneh buatan ayahku yang sangat mematikan!!! Pedang yang ditempa setipis mungkin agar mempermudah penggunanya untuk menggerakkan pedangnya dengan leluasa!!!", teriak Seiku.
"Kita harus melakukan sesuatu. Pertarungan ini sama sekali tidak menguntungkan Himura, pedangnya patah, kakinya juga terluka.", kata Misao.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Orang itu pasti tidak akan selamat melawan satsujinken buatan ayah.", kata Seiku dengan kepala tertunduk dan memegang keningnya. Suaranya penuh keputusasaan.
"Bagaimana bisa kau berkata begitu! Himura langsung datang begitu menerima kabar bahwa anakmu diculik, dia tetap datang walaupun pedangnya patah!", tegur Misao.
"Aku sama sekali tidak memintanya untuk melakukannya. Dia melakukannya atas kehendaknya sendiri."
Misao dan Katsura melihat Seiku dengan penuh kekesalan.
Okina menahan tangan Misao yang hendak memukul pria lemah itu. "Seharusnya kau tahu siapa yang hendak Himura lindungi. Himura sama sekali tidak peduli dengan dirinya sendiri tetapi dia tetap datang untuk menyelamatkan anakmu."
Himura melangkah maju hendak memasuki area pertarungan. "Mundurlah. Biar aku yang menghadapinya."
Kenshin melihat pemuda itu dan tercengang. "Nani?"
"Yare, yare. Ternyata kau mempunyai kembaran ya? Ini akan menjadi pertarungan yang menyenangkan.", kata Chou.
"Ini adalah pertarunganku dan juga ... Tidak akan kubiarkan siapapun terbunuh di sini.", kata Kenshin.
"Kalau begitu, pakailah katana ini.", kata Himura.
"Ie.", tolak Kenshin.
"Tanpa katana kau tidak mungkin bisa menang!", bujuk Himura yang meninggikan suaranya.
"MUNDUR KATAKU!!!", Kenshin menegurnya.
Seiku berlari memasuki area pertarungan dan hendak masuk ke dalam shrine untuk mendapatkan pedangnterakhir buatan ayahnya. Kenshin berhasil melindunginya dari serangan Chou. Setelah mengambil pedang tersebut, ia segera melemparkannya kepada Kenshin. "Himura-san! Pakailah pedang terakhir buatan ayahku ini! Kaulah yang pantas untuk memilikinya!", ia berteriak dari depan pintu shrine.
"Yatta!!! Ikke, Himura!!! Dengan pedang di tanganmu, dia pasti kalah!!!", kata Misao dengan penuh semangat.
"..."
"...!!!??? Doushita, Himura? Kenapa Himura tidak mencabut pedangnya?"
"Himura tidak ingin menggunakan pedang lain selain sakabattou.", jawab Okina.
Katsura dan pengawalnya terkejut mendengar jawaban itu. "Sakabattou?", sebut Katsura.
Misao terlihat kesal. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan masa lalu Himura! Sekarang masalahnya dia akan terbunuh kalau tidak menggunakan katana itu!"
"Masa lalu itulah yang menjadi masalahnya. Bila Himura menggunakan katana lain selain sakabattou, maka dia akan melanggar sumpah yang dijaganya selama ini, menjadi Hitokiri Battousai dan tidak bisa lagi kembali menjadi Rurouni."
Misao terbelalak terkejut. "Hitokiri ... Battousai. Himura ga ..."
Banyak hal yang memenuhi pikiran Katsura saat itu. "Himura berhenti membunuh?", salah satu pertanyaan yang muncul di benak kedua orang yang melewati dimensi waktu itu.
Tiba-tiba terdengar suara tebasan pedang dan Chou terhempas ke tanah.
"Cepat sekali ... gerakannya. Itukah Hitten Mitsurugi Ryu?", pikir Katsura.
"Dia melakukannya.", kata Okina.
Keadaan menghening sejenak sampai suara teriakan Seiku memecah keheningan tersebut.
"Himura-san! Lihatlah pedangmu!", kata Seiku sambil berlari mendekati Kenshin.
"Sakabattou?!!!", kejut Misao. "Itu artinya ... Himura, kamu tidak membunuhnya! Kamu tidak melanggar sumpahmu!"
Katsura mendekati lelaki yang memiliki juujikizu di pipi kirinya lalu menyapanya sambil tersenyum, "Himura."
Kenshin terkejut mendengar suara yang tidak asing itu lalu menoleh ke arah datangnya suara. "Katsura-san?!!", sebutnya. "Bagaimana ..." Lalu pandangannya teralih ke sosok yang tidak lain adalah dirinya sendiri dari masa lalu. "Sonna ..."
"Himura-kun, aku juga tidak mengerti bagaimana kedua orang ini bisa tiba-tiba muncul di jaman Meiji ini. Sebaiknya kita bicarakan di Aoiya.", kata Okina.
"Mengenai Chou, serahkan dia ke kantor polisi. Saitou yang akan mengurusnya.", kata Kenshin.
"Saitou? Maksudmu mantan ketua regu tiga Shinsengumi, Saitou Hajime?", sebut Okina.
"Aa.", Kenshin membenarkan. "Namanya yang sekarang adalah Fujita Goro."
Suara langkah kaki yang dengan tenang melangkah membangunkan Battousai yang sedang tidur di dekat jendela. Tidak lama kemudian shoji digeser dan terbuka. Tomoe memasuki kamar yang ditempatinya bersama Himura, "Katsura-san meminta kita pergi bersamanya sore ini.", kata perempuan yang memiliki raut wajah sedingin es itu.
"Kita?", Himura bertanya sambil memandangnya.
"Ee.", Tomoe mengangguk.
Sore itu jalanan mulai menyepi. Orang-orang tidak berani keluar rumah apabila malam mulai menjelang hingga keesokan paginya. Rumor tentang pembunuh berdarah dingin yang berkeliaran setiap malam untuk membunuh sudah beredar ke telinga semua penduduk kota. Karena itu mereka selalu mengunci pintu rapat-rapat untuk melindungi diri dari si pembunuh.
"Katsura-san, kemana tujuan kita?", tanya Himura yang berjalan di sisi komandannya lalu diikuti Tomoe dari belakang.
"Aoiya.", jawab Katsura. "Aku dengar makanan di sana enak-enak."
"Demo...tidak apa-apakah anda pergi ke tempat yang ramai seperti itu? Bagaimana bila ada yang mengenali anda? Terlebih lagi kita tidak tahu apakah Aoiya adalah restoran biasa atau salah satu kedok tempat persembunyian musuh."
"Aku percaya aku akan aman karena ada kamu, Himura.", Katsura tersenyum sambil menoleh ke belakang, "Ne, Tomoe-san?"
"Hai.", tanggap Tomoe.
Dalam perjalan yang berkabut sore itu, suasana jalan semakin sunyi. Kabut yang semakin pekat hingga sulit untuk melihat apapun di sekitar mereka yang kemudian berhenti berjalan. Himura bersiaga memegang katana nya, waspada dengan segala kemungkinan untuk diserang. "Katsura-san, tetaplah bersamaku.", katanya. "Juga Tomoe.", lanjutnya yang kemudian ditanggapi Yukishiro Tomoe dengan anggukan.
Setelah beberapa saat dilalui dengan kewaspadaan, samar-samar terdengar suara keramaian, dan kabut pun mulai menipis hingga akhirnya menghilang sama sekali.
"Aneh.", kata Katsura.
"Doushita no, Katsura-san?", tanya Himura.
"Sesaat yang lalu jalanan ini mulai sepi. Tetapi ini, ... ramai sekali.", jawab Katsura.
Himura dan Tomoe melihat ke sekitarnya. "Aku idak bisa merasakan ki ketakutan dari orang-orang ini.", pikir pemuda berambut merah itu. "Apa yang terjadi di sini?"
Katsura tersenyum menanggapi, "Apapun itu, kita tetap akan pergi ke Aoiya."
Akhirnya mereka sampai di Aoiya.
"Selamat datang.", sambut Omasu. "Are? Himura-san?"
Himura terkejut ada yang mengetahui namanya, begitu juga dengan kedua orang yang sedang bersamanya.
"Ternyata kau sering datang kemari, Himura?", tanya Katsura.
"Ie. ini yang pertama kali.", jawab Himura. "Jangan-jangan...!!!", ia curiga.
"Bukankah kamu sedang di atas bersama Okina?", tanya Omasu.
"Nani?"
"HIMURAAAAA!!!!!! JANGAN PERGI!!!!! PEDANGMU PATAH, KAU BISA TERBUNUH!!!!! HIMURAAAAAA!!!!", suara teriakan dari jendela lantai atas.
Mereka berempat melihat ke atas. Seseorang berpakaian pink dan rambut merah melompat dari jendela dan menghilang dalam sekejap dengan kecepatan larinya.
Mereka tercengang. Tiba-tiba seorang lelaki tua dengan tergesa-gesa turun dari tangga dan keluar.
"Okina! Apa yang terjadi?", tanya Omasu.
"Himura-kun?", sebut kakek itu tercengang. Kemudian ia menyadari setelah melihat sebuah goresan di pipi kiri pemuda itu. "Ini sungguh mengejutkan. Kamu bukan Rurouni, tetapi Hitokiri Battousai, masa lalu nya Himura-kun."
Himura terbelalak dan berpikir, "Orang tua ini bukan orang biasa, namun tidak membahayakan. Shukashi...ore wa ...Rurouni? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Jiiyaaaaaaa...!!!!!", panggil Misao yang sedang berlari ke Aoiya.
"Misao.", sebut Okina.
"Tegami yang kukirim, apa sudah diterima?", tanya gadis itu dengan napas terengah-engah.
"Kita harus segera menyusul Himura-kun!", kata Okina yg kemudian berlari ke kuil yang dituju Kenshin.
"Nani?!!!" Misao berlari menyusulnya. "Aku justru tidak ingin Himura mengetahuinya makanya aku sengaja mengirimkan surat itu padamu! Jiiya benar-benar tidak bisa diandalkan! Sekarang nyawa Himura dalam bahaya!"
"Katsura-san, aku akan ikut mereka. Aku yakin mereka punya petunjuk.", kata Himura.
"Aku juga akan pergi.", kata Katsura.
"Aku juga.", kata Tomoe.
"Kamu tinggal di sini, Tomoe.", Himura melarangnya.
"Demo..."
"Himura benar, Tomoe-san. Tinggallah di sini dan kami akan segera kembali."
"... Hai."
"Aku tidak bisa mencegahnya. Begitu mengetahuinya dia langsung pergi begitu saja.", kata Okina.
Mereka berempat berlari menaiki tangga menuju ke shrine. Di sana sudah ada suami istri Seiku.
"Sudah dimulai!", kata Misao yang melihat Kenshin berdiri berhadapan dengan Katanagari no Chou.
"Himura-kun bertarung dengan sarung pedangnya.", kata Okina.
Himura tercengang melihat lelaki berambut merah itu yang tidak lain adalah dirinya sendiri, hal serupa juga terjadi pada komandannya.
"Sonna..", ucap Himura.
Misao berpaling melihat Himura yang berdiri di sisi kirinya. "Kyaaaa!!!! Kenapa ada dua Himura di sini?"
"Are wa !!! Hati-hati !!!! Di pinggangnya, itu adalah satsujinken aneh buatan ayahku yang sangat mematikan!!! Pedang yang ditempa setipis mungkin agar mempermudah penggunanya untuk menggerakkan pedangnya dengan leluasa!!!", teriak Seiku.
"Kita harus melakukan sesuatu. Pertarungan ini sama sekali tidak menguntungkan Himura, pedangnya patah, kakinya juga terluka.", kata Misao.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Orang itu pasti tidak akan selamat melawan satsujinken buatan ayah.", kata Seiku dengan kepala tertunduk dan memegang keningnya. Suaranya penuh keputusasaan.
"Bagaimana bisa kau berkata begitu! Himura langsung datang begitu menerima kabar bahwa anakmu diculik, dia tetap datang walaupun pedangnya patah!", tegur Misao.
"Aku sama sekali tidak memintanya untuk melakukannya. Dia melakukannya atas kehendaknya sendiri."
Misao dan Katsura melihat Seiku dengan penuh kekesalan.
Okina menahan tangan Misao yang hendak memukul pria lemah itu. "Seharusnya kau tahu siapa yang hendak Himura lindungi. Himura sama sekali tidak peduli dengan dirinya sendiri tetapi dia tetap datang untuk menyelamatkan anakmu."
Himura melangkah maju hendak memasuki area pertarungan. "Mundurlah. Biar aku yang menghadapinya."
Kenshin melihat pemuda itu dan tercengang. "Nani?"
"Yare, yare. Ternyata kau mempunyai kembaran ya? Ini akan menjadi pertarungan yang menyenangkan.", kata Chou.
"Ini adalah pertarunganku dan juga ... Tidak akan kubiarkan siapapun terbunuh di sini.", kata Kenshin.
"Kalau begitu, pakailah katana ini.", kata Himura.
"Ie.", tolak Kenshin.
"Tanpa katana kau tidak mungkin bisa menang!", bujuk Himura yang meninggikan suaranya.
"MUNDUR KATAKU!!!", Kenshin menegurnya.
Seiku berlari memasuki area pertarungan dan hendak masuk ke dalam shrine untuk mendapatkan pedangnterakhir buatan ayahnya. Kenshin berhasil melindunginya dari serangan Chou. Setelah mengambil pedang tersebut, ia segera melemparkannya kepada Kenshin. "Himura-san! Pakailah pedang terakhir buatan ayahku ini! Kaulah yang pantas untuk memilikinya!", ia berteriak dari depan pintu shrine.
"Yatta!!! Ikke, Himura!!! Dengan pedang di tanganmu, dia pasti kalah!!!", kata Misao dengan penuh semangat.
"..."
"...!!!??? Doushita, Himura? Kenapa Himura tidak mencabut pedangnya?"
"Himura tidak ingin menggunakan pedang lain selain sakabattou.", jawab Okina.
Katsura dan pengawalnya terkejut mendengar jawaban itu. "Sakabattou?", sebut Katsura.
Misao terlihat kesal. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan masa lalu Himura! Sekarang masalahnya dia akan terbunuh kalau tidak menggunakan katana itu!"
"Masa lalu itulah yang menjadi masalahnya. Bila Himura menggunakan katana lain selain sakabattou, maka dia akan melanggar sumpah yang dijaganya selama ini, menjadi Hitokiri Battousai dan tidak bisa lagi kembali menjadi Rurouni."
Misao terbelalak terkejut. "Hitokiri ... Battousai. Himura ga ..."
Banyak hal yang memenuhi pikiran Katsura saat itu. "Himura berhenti membunuh?", salah satu pertanyaan yang muncul di benak kedua orang yang melewati dimensi waktu itu.
Tiba-tiba terdengar suara tebasan pedang dan Chou terhempas ke tanah.
"Cepat sekali ... gerakannya. Itukah Hitten Mitsurugi Ryu?", pikir Katsura.
"Dia melakukannya.", kata Okina.
Keadaan menghening sejenak sampai suara teriakan Seiku memecah keheningan tersebut.
"Himura-san! Lihatlah pedangmu!", kata Seiku sambil berlari mendekati Kenshin.
"Sakabattou?!!!", kejut Misao. "Itu artinya ... Himura, kamu tidak membunuhnya! Kamu tidak melanggar sumpahmu!"
Katsura mendekati lelaki yang memiliki juujikizu di pipi kirinya lalu menyapanya sambil tersenyum, "Himura."
Kenshin terkejut mendengar suara yang tidak asing itu lalu menoleh ke arah datangnya suara. "Katsura-san?!!", sebutnya. "Bagaimana ..." Lalu pandangannya teralih ke sosok yang tidak lain adalah dirinya sendiri dari masa lalu. "Sonna ..."
"Himura-kun, aku juga tidak mengerti bagaimana kedua orang ini bisa tiba-tiba muncul di jaman Meiji ini. Sebaiknya kita bicarakan di Aoiya.", kata Okina.
"Mengenai Chou, serahkan dia ke kantor polisi. Saitou yang akan mengurusnya.", kata Kenshin.
"Saitou? Maksudmu mantan ketua regu tiga Shinsengumi, Saitou Hajime?", sebut Okina.
"Aa.", Kenshin membenarkan. "Namanya yang sekarang adalah Fujita Goro."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar