Rabu, 06 Mei 2015

02 Himura Battousai Meet Himura Kenshin Gumi

Mereka pun kembali ke Aoiya.
"Aku benar-benar tidak menyangka pedang terakhir buatan ayahku adalah sebilah sakabattou.", kata Seiku. "Himura-san, kumohon terimalah pedang ini."
"... Ketika Shakku-dono mendengar sessha mengatakan bahwa sessha tidak akan pernah membunuh lagi, beliau memberikan sessha sebilah sakabattou. Shakku-dono berkata, bila suatu saat nanti sakabattoumu patah dan kamu masih terbuai dengan mimpi mu melindungi orang tanpa membunuh maka datanglah dan cari aku.", cerita Kenshin. "Sessha tidak menyangka itu adalah pertemuan terakhir dengan Shakku-dono." Lalu ia membisu sejenak lalu kembali berkata, "Sessha masih terbuai dengan mimpi ini, ... Maka sessha akan menerima sakabattou shinuchi ini dengan senang hati."
Setelah Seiku dan istrinya berpamitan, suasana kembali menghening.
"Gomen nasai.", sebuah suara lembut terdengar dari balik shoji. "Apakah saya mengganggu?"
Kenshin terkejut dan melihat ke arah pintu. "Ano koe ..."
"Sama sekali tidak. Masuklah.", jawab Okina.
Shoji digeser dan tampaklah seorang wanita berkimono putih dengan harum wewangian plum putih.
Kenshin berdiri dari tempat duduknya dengan mata yang lebih terbelalak lagi. "To ...mo ... e.", sebutnya.
Yukishiro Tomoe juga terkejut, tetapi tidak sekejut Kenshin.
"Oi, Himura. Kamu ini seperti melihat hantu saja.", kata Misao yang kemudian mendekati Tomoe dan mengajaknya duduk bersama.
Pandangan Kenshin tidak pernah lepas dari perempuan lembut itu, kemudian ia duduk dan menunduk.
"Bagaimana kalian bisa sampai di jaman ini, Katsura-san?", tanya Okina yang memulai pembicaraan.
Katsura tersenyum. "Kami juga tidak tahu, Okina-san. Pada awalnya kami memang ingin mencicipi makanan di Aoiya, tiba-tiba dalam perjalanan kami diselimuti kabut tebal, dan setelah itu kami berada di jaman ini.", jawabnya. "Kalau tidak salah, tadi anda menyebut jaman Meiji?"
"Sekarang ini adalah tahun kesebelas Meiji setelah jaman Bakumatsu. Saat ini katana dilarang dibawa di tempat umum. Hanya polisi yang boleh menggunakan katana. Aku yakin ada kalanya Himura-kun mengalami kesulitan dengan membawa katana di pinggangnya."
"Itu artinya kami berhasil menggulingkan Tokugawa.", kata Katsura.
Tomoe memperhatikan Kenshin yang sedaritadi menunduk. "Lalu ... di jaman yang damai ini,  kamu masih belum bisa meletakkan katana."
Kenshin menegakkan kepalanya melihat Tomoe. "Kore wa sakabattou de gozaru yo."
Tomoe terkejut mendengar intonasi sang Rurouni.
"Kono katana wa tidak bisa digunakan untuk membunuh. Sessha sudah berjanji akan berhenti membunuh ketika jaman baru dimulai."
"Berjanji kepada siapa?", tanya Himura yang sedaritadi hanya duduk diam sambil memeluk pedangnya di sudut ruangan.
Kenshin tersenyum tipis dan menunduk mengenang. "Kepada seseorang yang telah menyadarkan sessha dari kesalahan yang terlanjur sessha lakukan.", jawabnya. "Sessha harus menebus dosa-dosa dari semua kehidupan yang telah sessha rampas." Kemudian ia menegakkan kepalanya lagi dan melihat Himura. "Ini bukanlah jaman Bakumatsu lagi, jangan membunuh siapapun dengan katanamu. Dan juga ... Sessha sedang diincar, sebaiknya kalian jangan terlihat di luar. Orang-orangnya Shishio ada dimana-mana."
"Shishio?", sebut Katsura dan Himura.
"Tenang saja. Kalian akan aman di sini. Bagaimanapun juga kami adalah Oniwabanshu, penjaga kota Kyoto yang indah ini.", kata Misao dengan penuh semangat.
"Oniwabanshu?!" Himura segera memegang pedangnya dan bergerak melindungi komandannya. "Tomoe! Kemari!"
Misao menghela napas. "Neee, Himura. Kamu jelaskan pada mereka. Aku akan turun dan menyiapkan makan siang untuk kita.", katanya yang lalu meninggalkan ruangan.
"Katsura-san, jaman sudah berubah. Sekarang adalah saatnya semuanya bersatu membangun Meiji. Baik itu orang-orang yang dulunya berpihak kepada Bakufu maupun Isshinshishi, semuanya di jaman ini bersama-sama mempunyai tujuan yang sama.", jelas Kenshin.
"Himura, kamu sudah banyak berubah.", kata Katsura yang kemudian melihat pengawalnya. "Aku tidak menyangka kelak kamu akan berubah menjadi seperti itu."
"Katsura-san!", Himura menjadi salah tingkah.
Kenshin menyelipkan sakabattou di pinggangnya.
"Kamu mau kemana, Himura-kun?", tanya Okina.
"Sessha harus pergi dari sini. Bila Shishio mengetahui keberadaan sessha di Aoiya ini, dia pasti tidak akan tinggal diam. Kalian bisa berada dalam bahaya."
"Tapi ..."
"Okina-san, kami sudah menemukan orang yang anda cari.", kata seorang lelaki bertubuh besar sambil menyerahkan secarik kertas dan kemudian meninggalkan ruangan.
Okina membuka kertas tersebut. "Orang terakhir yang kamu cari sudah ditemukan, Himura-kun.", katanya. "Hiko Seijuro. Sedikit sulit untuk menemukannya karena dia menggunakan nama samaran."
"Shisshou?", sebut Himura.
"Anata no shisshou?", tanya Katsura.
Himura mengangguk.
"Arrigatou, Okina-dono. Jaa, ittekimassu.", pamit Kenshin.
"Himura-kun, ingatlah. Apapun yang terjadi, kami Oniwabanshu selalu berpihak padamu. Bersama-sama melindungi Jepang dari niat iblis Shishio."
Kenshin mengangguk lalu meninggalkan ruangan.
"Himura, makan siang sudah siap.", kata Misao yang berpapasan dengannya.
Kenshin tidak menanggapinya dan terus berjalan.
"Oi, Himura! Jangan-jangan kau akan pergi dari sini?"
Kenshin menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa kamu jadi menjauh? Apakah karena kami mengetahui kamu adalah Hitokiri Battousai?", tanyanya. "Dengar, ya. Aku sama sekali tidak peduli dengan masa lalumu, yang kutemui itu adalah Himura yang Rurouni."
Kenshin tertawa kecil.
"Nani? Apanya yang lucu?"
"Teman yang berpisah dengan sessha di Tokyo juga mengatakan hal yang sama pada sessha. Sessha sama sekali tidak menyangka akan mendengarnya lagi di kampung halaman sessha ini, Kyoto." Setelah mengatakan itu, Kenshin melanjutkan niatnya untuk pergi dari Aoiya.
"Himura!"
"Misao!", tegur Okina. "Biarkanlah Himura pergi. Semakin kamu membujuknya untuk tinggal semakin kamu akan terluka."
Misao tidak menghiraukan kata-kata Okina dan mengejar Kenshin.
Okina menghela napas dan kembali masuk ke dalam ruangan untuk menemani ketiga tamu barunya.
"Okina-san, bisakah anda menceritakan mengenai apa yang sedang terjadi?", pinta Katsura.
Kakek berambut putih itu meneguk tehnya lalu memandang serius pada kedua lelaki di hadapannya. "Shishio Makoto.", sebutnya. "Pengganti Hitokiri Battousai."
"Pengganti?"
"Seharusnya Shishio sudah terbunuh sepuluh tahun silam, itu yang kami dengar. Tapi ... ternyata dia masih hidup. Dan sekarang melakukan kudeta untuk menguasai Jepang.", kata lelaki tua itu. "Tadinya kami hanya mendengarnya sebagai kabar angin, tetapi melihat Himura ada di Kyoto sekarang ini setelah sekian lama menghindari kota yang menyimpan masa lalu kelamnya, kami jadi semakin yakin dengan kabar angin itu."
Omasu mengantarkan makan siang kepada mereka.
"Jiiya.", panggil Misao. "Ada teman-teman Himura dari Tokyo."
Kaoru dan Yahiko permisi dan memasuki ruangan itu. Seperti yang lainnya, keduanya juga terkejut melihat Himura di sana.
"Kenshin!", panggil keduanya.
Okina menyela. "Ano .. Dia memang Himura Kenshin tetapi bukan Himura-kun yang kalian cari."
"Apa maksudnya?", tanya Yahiko dengan kesal. "Kenshin wa Kenshin!"
"Himura-kun yang kalian temui ini sama sekali belum mengenal kalian. Dengan kata lain, dia adalah Hitokiri Battousai yang entah bagaimana bisa datang ke jaman Meiji ini."
"Sou dessu yo.", Misao membenarkan.
"Yahiko, Kenshin yang kita kenal mempunyai juujikizu di pipi kirinya.", kata Kaoru.
Anak lelaki itu melihat Himura. "Kau benar, Kaoru.", katanya. "Jadi inilah Kenshin saat masih menjadi Hitokiri."
"Himura Battousai tidak sendirian datang ke jaman ini. Yang di sebelah sana adalah Katsura Kogoro, dan gadis ini adalah Yukishiro Tomoe."
"Hajimemashite."
"Oh, hai, Hajimemashite. Watashi wa Kamiya Kaoru. Kore wa Myoujin Yahiko. Yoroshiku onegaishimasu."
"Jaa... Kenshin wa?", tanya Yahiko kepada Okina.
"Dia baru saja pergi dari sini.", jawab Okina.
Kaoru terlihat sangat kecewa. Dia menunduk.
"Apa kalian tahu Himura sedang menghadapi pertarungan yang penting?", tanya Misao.
"Ee.", Kaoru membenarkan.
"Tetapi kalian masih saja jauh-jauh datang dari Tokyo untuk menemuinya?"
Kaoru menggenggam tangannya. "Apa yang akan kau lakukan bila kau adalah aku, Misao-chan?"
Misao terkejut dan teringat dengan pencariannya.
"Aku ingin bertemu dengannya dan juga ...", kata Kaoru yang kemudian pandangannya membara. "... Aku ingin menghajarnya karena sudah membuat kami semua khawatir!!!!"
"Ka...Kaoru-san, kowaii yo.", kata Misao.
"Demo ... Aku ingin mendukungnya. Apapun keputusan yang Kenshin ambil, aku ingin selalu mendukungnya. Setelah urusan di Kyoto selesai, aku ingin mengajaknya bersama-sama kembali ke Tokyo. Semua teman-teman sedang menunggu kepulangannya."
"..."
"Karena itu ... Aku mohon, beritahu aku kemana Kenshin pergi."
"Jiiya!", panggil Misao.
"Wakatta.", kata Okina seraya menyerahkan secarik kertas tadi kepada Misao. "Ini alamat Himura-kun no Shisshou."
"Shisshou? Benar juga. Kenshin pasti mempunyai seorang guru yang mengajarinya Hitten Mitsurugi Ryu. Apa dia lebih kuat dari Kenshin ya?", komentar Yahiko. "Ah, tidak tidak! Aku sudah sering melihatnya bertarung. Kenshin adalah yang terkuat, sampai sekarang dia belum terkalahkan! Tapi untuk apa dia kembali kepada gurunya?"
"Eh, kamu sudah sering melihatnya bertarung?", tanya Misao.
"Tentu saja. Dan jurus favorit Kenshin adalah Ryu Tsui Sen! Aku ingin sekali mencoba gerakan itu! Kakkoi!"
"Ayo, kita temui Kenshin.", kata Kaoru yang kemudian berpamitan pada semuanya.
"Tunggu dulu. Kenshin, kamu tidak mau ikut menemui gurumu?", tanya Yahiko.
Himura menatap anak itu dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
"Gah! Aku lupa. Kamu masih seorang Hitokiri. Sebagai Hitokiri, kamu berbeda sekali dengan Kenshin yang kami kenal. Kenshin yang sekarang, tidak akan ada yang percaya dulunya dia adalah Hitokiri Battousai yang legendaris itu."
"Ano ottoko.", kata Himura dengan suara datar. "Belum tentu shisshou bersedia menemuinya."
"Apa maksudmu, Himura?", tanya Misao.
Pemuda tersebut tidak menjawab apapun dan memilih berdiam diri.
"Kenshin pasti mempunyai kepentingan dengan gurunya.", kata Kaoru.
"Dia harus mau menemui Kenshin!", kata Yahiko.
"Saa... Ikkou.", kata Misao.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar